Jumat, 20 April 2012


TUGAS MID (RESUME)
PERSPEKTIF ILMU SOSIAL
MASALAH SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN
DR. JULIA MAGDALENA WUYSANG
DISUSUN OLEH
MARSUM
(E51110002)






JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2011/2012
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita kepada  ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatNya berupa nikmat sehat serta akal pikiran yang melebihi makhluk lainnya,sehingga kita bisa menyelesaikan tugas makalah “Masalah Sosial Dalam Pembangunan “dengan tema  “Resume Komunikasi Organisasi” ini dengan baik dan benar serta lancar dalam waktu pengerjaannya.kemudian tugas makalah ini dibuat sebagai tugas kelompok.
Tugas makalah ini adalah sebuah tugas terstruktur dalam perkuliahan maka dari itu tanpa bimbingan dan motivasi dari beberapa pihah baik secara langsung  maupun tidak langsung.Oleh karena itu,pada kesempatan ini saya selaku tim penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu  Dr. Julia Magdalena, M.Si selaku dosen pengampuh mata kuliah masalah sosial dalam pembangunan dan teman-teman saya semua.
Saya juga menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu,Saya memerlukan kritik dan saran yang bisa menjadi motivasi untuk melengkapi kekurangan pada makalah ini agar bisa bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membaca.
Pontianak,…..desember  2011

Tim penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................      ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................       iii
BAB I PERSPEKTIF  ILMU SOSIAL..............................................................       1
1.1.       PERSPEKTIF SUBJEKTIF .............................................................        1
1.1.1.      ASUMSI ONTOLOGIS.............................................................       1
1.1.2.      ASUMSI MENGENAI SIFAT MANUSIA...............................       2
1.2.      KONSEP UTAMA ............................................................................        3
1.3.      ORGANISASI DAN PENGORGANISASIAN..................................       5
1.4.      PENGARUH PANDANGAN DUNIA ATAS DEFINISI DAN ANALISIS.........................................................................................        8
1.5.      IMPLIKASI BAGI PERILAKU ORGANISASI................................       9
BAB II TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK.........................................      12
      II.1.  SEJARAH TEORI INTERAKSIONISME  SIMBOLIK...................      12
      II.2. ASUMSI-ASUMSI ...........................................................................        14
      II.3. KESIMPULAN..................................................................................        17
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................        18


BAB I
KOMUNIKASI ORGANISASI
1.1.PERSPEKTIF SUBJEKTIF
1.1.1.       Asumsi Ontologis
a.       Realitas Sebagai Proyeksi Imajinasi Manusia
Dunia sosial dan apa yang dianggap realitas adalah proyeksi dari kesadaran individu  ia merupakan suatu tindakan imajinasi kreatif dan kondisi intersubjektif  yang meragukan. Pendekatan-pendekatan transendental tentu terhadap fenomenologi  menyoroti realitas dalam kesadaran (consciousness) manifestasi suatu dunia fenomenal namun tidak dengan sendirinya terbuka bagi pemahaman dalam kegiatan sehari-hari. Jadi, sifat dunia fenomenal mungkin terbuka bagi manusia hanya lewat cara pandang yang secara disadari fenomenologis.
b.      Realitas Sebagai Konstruksi Sosial
Dunia sosial adalah suatu proses yang berkesinambungan, dicipta ulang dalam setiap pertemuan (encounter) kehidupan sehari-hari ketika orang-orang menuntut diri mereka sendiri di dunia mereka untuk membentuk suatu wilayah definisi yang bermakna.  Biasanya mereka menggunakan hal itu lewat label, bahasa, tindakan dan rutinitas yang merupakan mode-mode keperiadaan (mode of
Pernyataan :
Saya tertarik mempelajari perspektif ini (subjektif)
being) yang bersifat simbolik di dunia.
c.       Realitas Sebagai Wacana Simbolik
Dunia social suatu pola dan makna simbolik yang ditopang lewat suatu proses tindakan dan interaksi manusia. Meskipun suatu derajat tertentu kontinuitas dipelihara lewat berlangsungnya kegiatan-kegiatan yang mempunyai aturan (rule-like activities) yang menentukan suatu lingkungan social  tertentu, pola tersebut tersebut selalu terbuka bagi reafimasi atau perubahan melalui penafsiran dan tindakan individu.  
1.1.2.      Asumsi Mengenai Sifat Manusia
a.       Manusia sebagai Makhluk Transendental
Manusia dipandang mempunyai tujuan (intentional beings) mengarahkan energy psikis dan pengalamannya dengan cara-cara yang mewujudkan dunia dalam suatu bentuk yang bermakna dan bertujuan.
b.      Manusia Menciptakan Realitas
Manusia menciptakan realitas mereka dengan cara-cara yang paling mendasar dalam usaha untuk membuat dunia mereka dapat dijelaskan kepada mereka sendiri dan kepada orang-orang lainnya.  Realitas tampak sebagai nyata bagi individu-individu karena tindakan manusia yang secara sadar atau tanpa disengaja bersekongkol.
c.       Manusia Sebagai Aktor Sosial
Manusia adalah actor social yang menafsirkan lingkungan mereka dan mengarahkan tindakan mereka dengan cara bermakna bagi mereka. Biasanya dalam proses ini mereka menggunakan bahasa,lebel dan rutinitas untuk pengelolaan kesan dan mode-mode lain tindakan yang spesifik secara kultura.
1.2.KONSEP UTAMA
Dalam masyarakat kita, kita menghargai “organisasi yang baik.” Orang senang berorganisasi. Misalnya, organisasi sangat penting dalam dunia olahraga. Media tampak senang ketika mereka dapat menunjukkan sebuah “tim tanpa nama” yang mengalahkan lawan-lawannya karena permainan yang terorganisasi. Meskipun budaya kita cenderung menekankan individualism, kita juga mementingkan aktivitas terkoordinasi yang menghasilkan sesuatu yang istimewa.
  Konsep pengorganisasian dan konsep organisasi begitu lazim dalam kehidupan sehari-hari, tidak mengherankan bila orang mengabaikan kepemilikannya. Memahami kehidupan organisasi lebih dari mendefinisikan pengorganisasian, organisasi dan komunikasi organisasi. Konsep konsep ini dapat digunakan dalam berbagai cara dengan berbagai konsekuensi.
d.      Realitas Sosial
            Konsep realitas social dan bagaimana  kita memahami dunia social kita. Yang dimaksud bukan memecahkan teka-teki mengenai unsure-unsur yang sebenarnya melainkan membentuk realitas social yang sesuai dengan alur pemikiran kita. Supaya kita yakin bahwa orang yang mengalami keberadaan objek-objek yang bersifat fisik, namun kita yakin bahwa orang menciptakan pengalaman yang kita miliki bersama-sama orang lain dan objek-objek. 
            Dalam realitas social apa yang harus diketahui bahwa (1) orang-orang yang berbeda berperilaku dengan cara-cara yang berbeda terhadap apa yang mereka anggap objek yang layak diamati, dan (2) perbedaa-perbedaan tersebut adalah berdasarkan pada bagaimana orang-orang berfikir tentang objek-objek itu. Dalam pengertian ini, perilaku dan objek adalah konstruksi sosial, karena tergantung pada manusia untuk membuat perilaku dan objek itu segnifikan.
            Dalam suatu permasalahan ini (Morgan and Smircich,1980) menawarkan suatu perbandingan umum dan perbedaan pandangan mengenai realitas kepercayaan-kepercayaan yang menyertainya mengenai sifat manusia. Dalam buku ini istilah “objektif”merujuk kepada pandangan bahwa objek-objek, perilaku-perilaku dan peristiwa-peristiwa eksis di suatu dunia nyata. Hal-hal itu eksis terlepas dan independen dari pengamatnya. Istilah subjektif menunjukkan bahwa realitas itu sendiri adalah suatu konstruksi sosial, dan istilah objektif untuk menunjukkan mana yang lebih baik . Istilah-istilah itu sekadar untuk merujuk  kepada pandangan-pandangan alternatif  mengenai dunia.
            Pandangan objektif mengasumsikan bahwa orang-orang dapat menjauhkan diri mereka dari bias-bias mereka dan bahwa kebenaran dapat ditemukan bila kita dapat menyingkirkan campur tangan manusia ketika melakukan penelitian. Sementara itu, subjektivitas menunjukkan bahwa pengetahuan tidak mempunyai sifat yang objektif dan tidak mempunyai sifat yang tidak dapat berubah. Meskipun demikian, terdapat orang-orang yang berpendapat bahwa individu-individu tidak menciptakan dunia luar namun berinteraksi dengannya. Misalnya, Brown (1977) berpendapat bahwa objek- objek persepsi merupakan hasil proyeksi teoritis dan tindakan dunia eksternal atas indera-indera kita.
1.3.ORGANISASI ATAU PENGORGANISASIAN
Istilah organisasi mengisyaratkan bahwa suatu yang nyata  merangkum orang-orang, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan. Organisasi eksis seperti sebuah keranjang, dan semua unsure yang membentuk organisasi tersebut ditempatkan dalam wadah itu. Suatu pendekatan subjektif memandang organisasi sebagai kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang. Organisasi terdiri dari tindakan-tindakan, interaksi dan transaksi yang melibatkan orang-orang. Organisasi diciptakan dan dipupuk melalui kontak-kontak yang terus menerus berubah yang dilakukan oleh organisasi lain.
Organisasi secara khas dianggap kata benda sementara, sementara pengorganisasian (organizing) dianggap sebagai kata kerja (weick,1979). Kaum subjektif menganggap organisasi sebagai  mengorganisasikan perilaku. Alat yang digunakan untuk menggambarkan organisasi memberikan pandangan mengenai tantangan untuk memahami apa sebenarnya organisasi. Suatu alat deskriptif yang primer adalah metafora (kiasan). Suatu metafora  membandingkan (mengumpamakan) suatu hal dengan suatu hal lainnya dengan membicarakan hal pertama seolah-olah hal itu adalah hal kedua. Misalnya mengatakan bahwa “hidup adalah permainan “ adalah menggunakan  metafora yang membandingkan hidup dengan permainan.
Mengkaji sesuatu, seperti organisasi dapat berdasarkan penelahaan ciri-
Ciri metafora yang ditemukan dalam persoalan yang dikaji. Morgan dan Smircich (1980) berpendapat bahwa teoritisi  memilih metafora yang didasarkan atas asumsi-asumsi mengenai realitas dan sifat manusia yang melibatkan mereka dalam jenis-jenis dan bentuk-bentuk pengetahuan tertentu. Dilain itu juga Morgan (1980) berpendapat bahwa suatu metafora didasarkan atas suatu kebenaran parsial, dan eksperesi metafora yang paling kreatif bergantung pada kekeliruan konstruktif (constructive  falsehood) yang menekankan ciri-ciri tertentu.
            Implikasi utama dari gagasan ini, menurut Morgan adalah bahwa “tidak ada metafora yang dapat menangkap sifat kehidupan organisasi secara total dan bahwa  metafora yang berbeda dapat merupakan dan menangkap sifat kehidupan organisasi dengan cara yang berbeda, Setiap metafora menciptakan cara pandang yang kuat, khas namun pada dasarnya parsial mengakui bahwa teori organisasi bersifat metaforis adalah mengakui bahwa teori organisasi adalah suatu usaha yang pada dasrnya subjektif,  yang  berkaitan dengan produksi analisis satu sisi atas kehidupan organusasi” (hlm.611-612).
            Metafora digunakan luas dalam studi dan praktik komunikasi organisasi. Misalnya , para manajer gemar menggunakan metafora olahraga untuk menggambarkan perilaku organisasi.  Namun adalah penting bahwa metafora tidak dicampur adukkan dengan apa yang ingin di uraikannya. Metafora olah raga dapat memberi uraian yang provokatif dan panduan bagi perilaku yang diharapkan.
            Sebuah metafora terkenal yang menunjukkan pendekatan subjektif terhadap organisasi adalah metafora budaya. Istilah “budaya” di gunakan dalam berbagai cara ketika merujuk kepada organisasi (smircich,1983,1985; pancanowsky dan o’donnell-trujillo,1982;putnam). Ketika metafora digunakan sebagai cara untuk melihat dan memahami dunia, budaya menunjukkan bahwa organisasi eksis hanya melalui orang-orang dalam interaksi. Analisis kultural menunjukkan perilaku dan konstruksi simbolik melalui interaksi meskipun kita sulit menyangkal potensi aktivitas simbolik, hal itu tidak selalu menggambarkan tindakan yang dilakukan orang tidak selalu melakukan apa yang mereka katakan selain itu kekuatan-kekuatan eksternal mungkin diabaikan ketika menerapkan metafora budaya.
1.3.1.      Sifat Manusia
Pendekatan subjektif menekankan bahwa manusia punya peranan yang lebih aktif dan kreatif. Kreasi mereka sendiri bukanlah produk lingkungan, namun mereka menciptakan lingkungan konkrets eksis secara indefendend dari tindakan manusia. Manusia hidup dalam dunia simbolik, dan linkungan simbolik itu berubah  serta dapat ditafsirkan dengan berbagai cara.
1.3.2.      Tindakan Manusia
Bagi kaum subjektivis, tindakan muncul dari proses sosial dalam interkasi manusia. Fokusnya, adalah perilaku yang berkembang (emergent) yang bergantung pada konstruksi sosial yang terjadi selama proses interakasi.  Meskipun gagasan ini akan dibahas lebih terperinci nanti pengalaman dan pandangan subjektivitas menyarankan bahwa perilaku manajarial yang disarankan dapat menghasilkan respon pegawai yang beda. Adalah menyenangkan berpikir bahwa para manajer mungkin dapat memasuki suatu situasi dengan aturan-aturan universal mengenai bagaimana mengelola organisasi.
Kaum subjektivis menekankan bahwa manusia menciptakan keteraturan dan situasi.  Alih-alih  mencoba menemukan suatu keteraturan ilmiah (bagi mereka yang tidak eksis ), lebih bermanfaat untuk bersikap peka atas bagaimana manusia menciptakan keteraturan, maka bagi mereka dan konskuensi penciptaan mereka. Berdasarkan pandangan subjektivis pemahaman atas motivasi menuntut pengetahuan mengenai aspek aspek unik peserta organisasi dan dunia mereka ciptakan.
1.4. PENGARUH PANDANGAN DUNIA ATAS DEFINISI DAN ANALISIS
Pandangan dunia seseorang mempunyai pengaruh atas bagaimana seseorang mendefinisikan konsep organisasi. Kaum subjektivis mendifinisikan organisasi sebagai perilaku pengorganisasian (organizing behavior). Berdasarkan definisi ini pengethuan mengenai organisasi harus diperoleh dengan melihat perilaku-perilaku khusus tersebut dan apa makna perilaku-perilaku itu bagi mereka yang melakukannya. Seorang subjektivis tidak berusaha mengendalikan berbagai kekuatan (struktur, perencanaan, tujuan )namun menerangkan hal-hal tersebut.
Ketika yang ditekankan adalah interaksi antara para peserta, seperti yang dilihat oleh seorang subjektivis, konsep organisasi tidak terbatas pada industri-industri atau badan-badan yang besar. Organisasi tidak berperilaku hanya orang yang berperilaku (weick, 1979).
1.5. IMPLIKASI BAGI PERILAKU ORGANISASI
1.5.1.      Struktur versus Perilaku
Pendekatan subjektivis juga mengakui struktur namun tekanan mereka adalah pada perilaku manusia. Struktur tidak independen dari tindakan-tindakan manusia. Manusia menciptakan struktur, memelihara, dan memeutuskannya. Terdapat orang –orang yang berpendapat struktur secara berkesinambungan diciptakan yang bahkan membuat konsep aktivitas rutin problematik. Suatu proses yang kreatif diperlukan bagi struktur untuk diakui sebagai rutin. Struktur tidak sekadar  ada disana. Ia di terapkan dan di wujudkan lewat prose pengorganisasian  (garfinkel, 1967;weick,1969,1979).
Pandangan subjektif menyarankan bahwa perilaku dan tindakan spesifik merupakan kekuatan dominan dalam organisasi. Tidak ada struktur hingga individu-individu bekerja sama untuk menciptakannya.
1.5.2.      Keteramalan dan Kontrol
Pendekatan subjektif  mengisyaratkan bahwa keteraturan diciptakan oleh para peserta orgaisasi. Kaum subjektivis tidak menyangkal keteraturan namun sekadar berpendapat bahwa  tidak terdapat keteraturan hingga keteraturan itu di kontruksi oleh anggota-anggota organisasi.
1.5.3.      Peranan Lingkungan
Kaum subjektivis memandang pentingnya lingkungan dengan cara yang berbeda. Suatu bagian penting perilaku organisasi adalah bagaimana para peserta menciptakan lingkungan dan bagaimana penciptaan tersebut mempengaruhi perilaku mereka (weick, 1979). Apa yang penting adalah apa yang tercipta ,bukan apa yang sungguh-sungguh ada disana karena apa yang ada disana apa hanya dapat dipahani lewat proses simbolik dan menghasilkan suatu interpretasi subjektif.
1.5.4.      Kesederhanaan dan Kerumitan
Kaum subjektivis mengingatkan bahwa konsepsi-konsepsi demikian mungkin menawarkan suatu angan-angan.ketika kekayaan dan kerumitan perilaku manusia diabaikan apa yang tersisa bukanlah perilaku manusia dan bukan penggambaran organisasi, Alih –alih menyederhanakan, mungkin lebih perlu menganalisis semua kerumitan tersebut sehingga proses manusia yang penting dapat dipertimbangkan.
Bagi kaum subjektivis, organisasi yang dibuat dapat dipahami dengan menemukan bagaimana kehidupan organisasi diciptakan oleh para anggotanya. Juga kaum subjektivis tertarik pada gagasan yang rumit mengenai pembentukan dunia dan pengaruh yang ditimbulkan proses tersebut atas organisasi (smircich, 1985 ).  

Kesimpulanya :
Kita telah membahas gagasan-gagasan pokok yang mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi dipahami, dikaji, dan dipraktikan. Pandangan-pandangan alternatif mengenai realitas dan sifat manusia berpengaruh atas definisi dan fungsi-fungsi yang dipersepsi mengenai komunikasi  organisasi. Pandangan-pandangan tersebut memutuskan isu-isu apa yang menjadi perhatian dan bagaimana isu-isu itu dihampiri untuk dikaji. Selain itu, bagaimana seseoran memandang sifat tindakan manusia akan memandu praktik-praktik komunikasi organisasi. Organisasi diciptakan untuk dipahami bukan dibuat jadi rumit  untuk para pesertanya sesuai dengan tujuan organisasinya.
  

 



              



BAB II
TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
II.1. SEJARAH TEORI INTERAKSIONISME  SIMBOLIK
            Ketika teori aksi mandeg ditengah jalan baik secara teoritis maupun impiris, kalau dilihat dari segi intensitas aplikasi teorinya, maka dalam keadaan kosong itu muncullah suatu perspektif baru yang kemudian menjadi kekuatan utama ilmu sosiologi. Perspektif yang dimaksud adalah interaksionisme simbolik. Pendekatan ini menggunakan atau mengikuti pendekatan Weber dalam teori Aksi.
            Teori interaksionisme simbolik ini berkembang pertama kali di universitas chicago dan dikenal pula sebagai aliran chicago. Tokoh utamanya adalah John Dewey dan Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan teori interaksionisme simbolik di universitas Michigan.  Kemudian Dewey pindah ke chicago mempengaruhi tokoh –tokoh sosial seperti W.I. Thomas dan G.H. Mead.
            Walaupun begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi , Interaksionisme Simbolik adalah teori yang paling  sukar disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tak ada satupun sumber yang dapat memberi pernyataan  tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal yakni bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behavioralisme radikal yang dipelopori oleh J.B. Watson. Hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori ini yakni G.H. mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori behavioralisme itu.
            Behavioralisme radikal berpendirian bahwa perilaku individu adalah suatu yang dapat diamati. Ini diakui oleh Mead, Tetapi sementara Mead mengakui pentingnya pengamatan terhadap tindakan individu itu ia juga merasa bahwa tindakan (action) itu merupakan aspek yang terselubung dari perilaku (behavio) yang justru menurutnya diabaikan oleh penganut behavioralisme radikal. Pelu dijelaskan disini bahwa secara konsepsional istilah “action” mengandung makna yang berbeda dari istilah “behavior”.
            Behaviorisme mempelajari tingkahlaku manusia secara obyektif dari luar. Sedangkan Mead dari Interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik introspeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar belakangi  tindakan sosial itu dari sudut aktor.
            Dari semula  memang sudah terdapat antagonisme antara pendirian interaksionisme simbolik ini dengan behaviorisme. Interaksionisme Simbolik beranggapan behaviorisme menilai perilaku manusia semata merupakan tanggapan terhadap rangsangan dari luar darinya. Penilaian perilaku manusia sebagai hasil dari proses stimulus atau respons ini di pandang oleh interaksionisme simbolik sebagai merendahkan derajat perilaku manusia sampai batas kelakuan binatang yang memang semata-mata merupakan hasil proses stimulus atau respon.
            Perbedaan teori ini menurut Blumer adalah interaksionisme simbolik menunjukkan kepada sifat khas dari interkasi antar manusia. Kekhasan yang dimaksud bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekadar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain, tetapi didasarkan makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain.
            Teori ini juga menentang atau menolak pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma perilaku sosial dengan alasan yang sama. Keduanya tidak mengakui arti penting kedudukan individu. Bagi paradigma fakta sosial , individu dipandang sebagai orang yang terlalu mudah dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya seperti kultur, norma dan peranan-peranan sosial.
II.2. ASUMSI-ASUMSI
            Asumsi-asumsi yang di kemukakan oleh Arnold Rose melalui satu seri dan proposisi-proposisi umum sebagai berikut.
a.      Asumsi 1
Manusia hidup dalam suatu lingkungan simbol-simbol. Manusia memberikan tanggapan terhadap simbol-simbol itu seperti juga ia memberikan tanggapan terhadap rangsangan yang bersifat fisik. Misalnya, terhadap panas dan dingin.    Pengertian dan penghayatan terhadap simbol-simbol yang tak terhitung jumlahnya itu merupakan hasil pelajaran dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
b.      Asumsi 2
Melalui simbol-simbol manusia berkemampuan menstimulir orang lain dengan cara –cara yang mungkin berbeda dari stimuli yang diterimanya dari orang lain itu. Untuk memahami asumsi ini perlu dikemukakan pendapat Mead yang membedakan antara tanda-tanda alamiah (natural signs) dan simbol-simbol yang mengandung makna (significant symbols). Natural signs bersifat naluriah serta menimbulkan reaksi yang sama bagi setiap orang. contihnya, air bagi orang bagi yang haus. Significant syimbol tidak harus menimbulkan reaksi yang sama bagi setiap orang. Satu hal yang menjadi perhatian disini adalah bahwa simbol komunikasi merupakan proses dua arah dimana kedua pihak saling memberikan makna atau arti terhadap simbol-simbol itu.
c.       Asumsi 3
Melalui komunikasi simbol-simbol dapat dipelajari sejumlah besar arti dan nilai-nilai, dan karena itu dapat dipelajari cara-cara tindakan orang lain. Karena simbol-simbol adalah  bagian sentral dari kehidupan manusia dan karena simbol-simbol adalah suatu pengertian yang dipelajari, maka manusia harus dan dapat mempelajari simbol-simbol yang tak terhitung jumlahnya.
d.      Asumsi 4
Simbol , maka serta nilai-nilai yang berhubungan dengan mereka tidak hanya terpikirkan oleh mereka dalam bagian-bagian yang terpisah tetapi selalu dalam bentuk kelompok, yang kadang-kadang luas dan kompleks. Artinya terdapat satuan-satuan kelompok yang mempunyai simbol-simbol yang sama. Atau kalau dipandang dari segi simbol, akan ada simbol kelompok.
e.       Asumsi 5
Berpikir merupakan suatu proses pencarian kemungkinan yang bersifat simbolis dan untuk mempelajari tindakan-tindakan yang akan datang, menaksir keuntungan dan kerugian relatif  menurut penilaian individual, dimana satu diantaranya dipilih untuk dilakukan. Titik perbedaan yang paling kontras antara pandangan interaksionisme simbolik dengan pandangan behaviorisme, dimana behaviorisme mengabaikan pandangan yang demikian.
ü  Proposisi umum (deduksi) I
Dengan mempelajari kultur dan subkultur, manusia mampu memprediksi tindakan antara sesamanya sepanjang waktu dan mengeksploitasi tindakan sediri untuk memprediksi tindakan orang lain. Masyarakat melalui kulturnya menyediakan seperangkat arti yang sama terhadap simbol-simbol tertentu.
ü  Proposisi umum (deduksi) II
Individu sendiri yang menentukan barang sesuatu yang bermakna bagi dirinya sendiri. Begitu pula sasaran tindakannya serta sifat khas cara-cara mencapai tujuannya itu. Dimata Mead, manusia mempunyai kepribadian sendiri dan karena itu mempunyai kemampuan untuk menciptakan sasaran tindakan-tindakannya sendiri.
Menurut Mead manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pemikirannya sebelum ia melakukan tindakan yang sebenarnya. Seseorang mencobakan terlebih dahulu berbagai alternatif tindakan itu secara mental melalui pertimbangan pemikirannya.
Sejalan dengan pemikiran Mead saya juga beranggapan bahwa suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Melalui proses interaksi dengan diri sendiri itu, individu memilih yang mana diantara stimulus yang tertuju kepadanya itu yang akan ditanggapinya.
Gambaran diatas membawa kita kepada kosepsi yang nyata mengenai “tindakan” menurut pandangan interaksionisme simbolik. Tindakan menurut pandangan ini mencakup keseluruhan proses yang terlibat dalam aktivitas manusia.   
II.3. KESIMPULAN
            Kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antara individual dan kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan sesorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya atau dari luar lingkungannya. Tetapi tindakan itu merupakan hasil dari pada proses interpretasi terhadap stimulus. Jadi merupakan hasil proses belajar, dalam arti memahami simbol-simbol, dan saling menyesuaikan makna-makna dari simbol-simbol itu. Meskipun norma-norma, nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan terhadap tindakannya, namun dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya.   


DAFTAR PUSTAKA
Pace,R.Wayne dan Don F. Faules, komunikasi organisasi, penerjemah;Dedy Mulyana-edisi ke 2,Bandung,PT Remaja Rosdakarya offset, 2000
Ritzer,George dan Douglas J. Goodman, teori sosiologi modern, penerjemah; Alimandan-edisi ke 6, jakarta, prenada media,2003
Ritzer,George, sosiologi ilmu pengetahuan berparadigma ganda,           penerjemah; Alimandan-edisi ke 8, jakarta, rajawali pers, 2010. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar