TUGAS MID (RESUME)
PERSPEKTIF ILMU SOSIAL
MASALAH SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN
DR. JULIA MAGDALENA WUYSANG
DISUSUN OLEH
MARSUM
(E51110002)

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2011/2012
KATA
PENGANTAR
Segala
puji dan syukur kita kepada ALLAH SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatNya berupa nikmat sehat serta akal
pikiran yang melebihi makhluk lainnya,sehingga kita bisa menyelesaikan tugas
makalah “Masalah Sosial Dalam Pembangunan “dengan tema “Resume Komunikasi Organisasi” ini dengan
baik dan benar serta lancar dalam waktu pengerjaannya.kemudian tugas makalah
ini dibuat sebagai tugas kelompok.
Tugas
makalah ini adalah sebuah tugas terstruktur dalam perkuliahan maka dari itu
tanpa bimbingan dan motivasi dari beberapa pihah baik secara langsung maupun tidak langsung.Oleh karena itu,pada
kesempatan ini saya selaku tim penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
Ibu Dr. Julia Magdalena, M.Si selaku
dosen pengampuh mata kuliah masalah sosial dalam pembangunan dan teman-teman
saya semua.
Saya juga menyadari bahwa makalah
ini masih belum sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu,Saya memerlukan
kritik dan saran yang bisa menjadi motivasi untuk melengkapi kekurangan pada
makalah ini agar bisa bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membaca.
Pontianak,…..desember 2011
Tim penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PERSPEKTIF ILMU SOSIAL.............................................................. 1
1.1.
PERSPEKTIF
SUBJEKTIF ............................................................. 1
1.1.1. ASUMSI ONTOLOGIS............................................................. 1
1.1.2. ASUMSI MENGENAI SIFAT MANUSIA............................... 2
1.2. KONSEP UTAMA ............................................................................ 3
1.3. ORGANISASI DAN PENGORGANISASIAN.................................. 5
1.4. PENGARUH PANDANGAN DUNIA ATAS DEFINISI DAN ANALISIS......................................................................................... 8
1.5. IMPLIKASI BAGI PERILAKU ORGANISASI................................ 9
BAB II TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK......................................... 12
II.1. SEJARAH TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK................... 12
II.2.
ASUMSI-ASUMSI ........................................................................... 14
II.3.
KESIMPULAN.................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 18
BAB I
KOMUNIKASI ORGANISASI
1.1.PERSPEKTIF SUBJEKTIF
1.1.1.
Asumsi
Ontologis
a.
Realitas
Sebagai Proyeksi Imajinasi Manusia
Dunia sosial dan apa yang dianggap realitas adalah proyeksi dari
kesadaran individu ia merupakan suatu
tindakan imajinasi kreatif dan kondisi intersubjektif yang meragukan. Pendekatan-pendekatan
transendental tentu terhadap fenomenologi
menyoroti realitas dalam kesadaran (consciousness) manifestasi suatu
dunia fenomenal namun tidak dengan sendirinya terbuka bagi pemahaman dalam
kegiatan sehari-hari. Jadi, sifat dunia fenomenal mungkin terbuka bagi manusia
hanya lewat cara pandang yang secara disadari fenomenologis.
b.
Realitas
Sebagai Konstruksi Sosial
Dunia sosial adalah suatu proses yang berkesinambungan, dicipta
ulang dalam setiap pertemuan (encounter) kehidupan sehari-hari ketika
orang-orang menuntut diri mereka sendiri di dunia mereka untuk membentuk suatu
wilayah definisi yang bermakna. Biasanya
mereka menggunakan hal itu lewat label, bahasa, tindakan dan rutinitas yang
merupakan mode-mode keperiadaan (mode of
Pernyataan :
Saya tertarik mempelajari perspektif ini
(subjektif)
being)
yang bersifat simbolik di dunia.
c.
Realitas
Sebagai Wacana Simbolik
Dunia social suatu pola dan makna simbolik yang ditopang lewat
suatu proses tindakan dan interaksi manusia. Meskipun suatu derajat tertentu
kontinuitas dipelihara lewat berlangsungnya kegiatan-kegiatan yang mempunyai
aturan (rule-like activities) yang menentukan suatu lingkungan social tertentu, pola tersebut tersebut selalu
terbuka bagi reafimasi atau perubahan melalui penafsiran dan tindakan individu.
1.1.2.
Asumsi Mengenai
Sifat Manusia
a.
Manusia sebagai
Makhluk Transendental
Manusia dipandang mempunyai tujuan (intentional beings) mengarahkan
energy psikis dan pengalamannya dengan cara-cara yang mewujudkan dunia dalam
suatu bentuk yang bermakna dan bertujuan.
b.
Manusia
Menciptakan Realitas
Manusia menciptakan realitas mereka dengan cara-cara yang paling mendasar
dalam usaha untuk membuat dunia mereka dapat dijelaskan kepada mereka sendiri
dan kepada orang-orang lainnya. Realitas
tampak sebagai nyata bagi individu-individu karena tindakan manusia yang secara
sadar atau tanpa disengaja bersekongkol.
c.
Manusia Sebagai
Aktor Sosial
Manusia adalah actor social yang menafsirkan lingkungan mereka dan
mengarahkan tindakan mereka dengan cara bermakna bagi mereka. Biasanya dalam
proses ini mereka menggunakan bahasa,lebel dan rutinitas untuk pengelolaan
kesan dan mode-mode lain tindakan yang spesifik secara kultura.
1.2.KONSEP UTAMA
Dalam masyarakat kita, kita menghargai “organisasi yang baik.”
Orang senang berorganisasi. Misalnya, organisasi sangat penting dalam dunia
olahraga. Media tampak senang ketika mereka dapat menunjukkan sebuah “tim tanpa
nama” yang mengalahkan lawan-lawannya karena permainan yang terorganisasi.
Meskipun budaya kita cenderung menekankan individualism, kita juga mementingkan
aktivitas terkoordinasi yang menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Konsep pengorganisasian dan
konsep organisasi begitu lazim dalam kehidupan sehari-hari, tidak mengherankan
bila orang mengabaikan kepemilikannya. Memahami kehidupan organisasi lebih dari
mendefinisikan pengorganisasian, organisasi dan komunikasi organisasi. Konsep
konsep ini dapat digunakan dalam berbagai cara dengan berbagai konsekuensi.
d.
Realitas Sosial
Konsep realitas social dan
bagaimana kita memahami dunia social
kita. Yang dimaksud bukan memecahkan teka-teki mengenai unsure-unsur yang
sebenarnya melainkan membentuk realitas social yang sesuai dengan alur
pemikiran kita. Supaya kita yakin bahwa orang yang mengalami keberadaan
objek-objek yang bersifat fisik, namun kita yakin bahwa orang menciptakan
pengalaman yang kita miliki bersama-sama orang lain dan objek-objek.
Dalam realitas social apa yang harus
diketahui bahwa (1) orang-orang yang berbeda berperilaku dengan cara-cara yang
berbeda terhadap apa yang mereka anggap objek yang layak diamati, dan (2)
perbedaa-perbedaan tersebut adalah berdasarkan pada bagaimana orang-orang
berfikir tentang objek-objek itu. Dalam pengertian ini, perilaku dan objek
adalah konstruksi sosial, karena tergantung pada manusia untuk membuat perilaku
dan objek itu segnifikan.
Dalam suatu permasalahan ini (Morgan
and Smircich,1980) menawarkan suatu perbandingan umum dan perbedaan pandangan
mengenai realitas kepercayaan-kepercayaan yang menyertainya mengenai sifat
manusia. Dalam buku ini istilah “objektif”merujuk kepada pandangan bahwa
objek-objek, perilaku-perilaku dan peristiwa-peristiwa eksis di suatu dunia
nyata. Hal-hal itu eksis terlepas dan independen dari pengamatnya. Istilah
subjektif menunjukkan bahwa realitas itu sendiri adalah suatu konstruksi
sosial, dan istilah objektif untuk menunjukkan mana yang lebih baik . Istilah-istilah
itu sekadar untuk merujuk kepada
pandangan-pandangan alternatif mengenai
dunia.
Pandangan objektif mengasumsikan
bahwa orang-orang dapat menjauhkan diri mereka dari bias-bias mereka dan bahwa
kebenaran dapat ditemukan bila kita dapat menyingkirkan campur tangan manusia
ketika melakukan penelitian. Sementara itu, subjektivitas menunjukkan bahwa
pengetahuan tidak mempunyai sifat yang objektif dan tidak mempunyai sifat yang
tidak dapat berubah. Meskipun demikian, terdapat orang-orang yang berpendapat
bahwa individu-individu tidak menciptakan dunia luar namun berinteraksi
dengannya. Misalnya, Brown (1977) berpendapat bahwa objek- objek persepsi
merupakan hasil proyeksi teoritis dan tindakan dunia eksternal atas
indera-indera kita.
1.3.ORGANISASI ATAU PENGORGANISASIAN
Istilah organisasi mengisyaratkan bahwa suatu yang nyata merangkum orang-orang, hubungan-hubungan, dan
tujuan-tujuan. Organisasi eksis seperti sebuah keranjang, dan semua unsure yang
membentuk organisasi tersebut ditempatkan dalam wadah itu. Suatu pendekatan
subjektif memandang organisasi sebagai kegiatan yang dilakukan oleh
orang-orang. Organisasi terdiri dari tindakan-tindakan, interaksi dan transaksi yang
melibatkan orang-orang. Organisasi
diciptakan dan dipupuk melalui kontak-kontak yang terus menerus berubah yang
dilakukan oleh organisasi lain.
Organisasi secara khas dianggap kata benda
sementara, sementara pengorganisasian (organizing) dianggap sebagai kata kerja
(weick,1979). Kaum subjektif menganggap organisasi sebagai mengorganisasikan perilaku. Alat yang
digunakan untuk menggambarkan organisasi memberikan pandangan mengenai
tantangan untuk memahami apa sebenarnya organisasi. Suatu alat deskriptif yang
primer adalah metafora (kiasan). Suatu metafora
membandingkan (mengumpamakan) suatu hal dengan suatu hal lainnya dengan
membicarakan hal pertama seolah-olah hal itu adalah hal kedua. Misalnya
mengatakan bahwa “hidup adalah permainan “ adalah menggunakan metafora yang membandingkan hidup dengan
permainan.
Mengkaji sesuatu, seperti organisasi dapat
berdasarkan penelahaan ciri-
Ciri metafora yang ditemukan dalam persoalan
yang dikaji. Morgan dan Smircich (1980) berpendapat bahwa teoritisi memilih metafora yang didasarkan atas
asumsi-asumsi mengenai realitas dan sifat manusia yang melibatkan mereka dalam
jenis-jenis dan bentuk-bentuk pengetahuan tertentu. Dilain itu juga Morgan
(1980) berpendapat bahwa suatu metafora didasarkan atas suatu kebenaran
parsial, dan eksperesi metafora yang paling kreatif bergantung pada kekeliruan
konstruktif (constructive falsehood)
yang menekankan ciri-ciri tertentu.
Implikasi
utama dari gagasan ini, menurut Morgan adalah bahwa “tidak ada metafora yang
dapat menangkap sifat kehidupan organisasi secara total dan bahwa metafora yang berbeda dapat merupakan dan
menangkap sifat kehidupan organisasi dengan cara yang berbeda, Setiap metafora
menciptakan cara pandang yang kuat, khas namun pada dasarnya parsial mengakui
bahwa teori organisasi bersifat metaforis adalah mengakui bahwa teori
organisasi adalah suatu usaha yang pada dasrnya subjektif, yang berkaitan
dengan produksi analisis satu sisi atas kehidupan organusasi” (hlm.611-612).
Metafora
digunakan luas dalam studi dan praktik komunikasi organisasi. Misalnya , para
manajer gemar menggunakan metafora olahraga untuk menggambarkan perilaku
organisasi. Namun adalah penting bahwa
metafora tidak dicampur adukkan dengan apa yang ingin di uraikannya. Metafora
olah raga dapat memberi uraian yang provokatif dan panduan bagi perilaku yang
diharapkan.
Sebuah
metafora terkenal yang menunjukkan pendekatan subjektif terhadap organisasi
adalah metafora budaya. Istilah “budaya” di gunakan dalam berbagai cara ketika
merujuk kepada organisasi (smircich,1983,1985; pancanowsky dan
o’donnell-trujillo,1982;putnam). Ketika metafora digunakan sebagai cara untuk
melihat dan memahami dunia, budaya menunjukkan bahwa organisasi eksis hanya
melalui orang-orang dalam interaksi. Analisis kultural menunjukkan perilaku dan
konstruksi simbolik melalui interaksi meskipun kita sulit menyangkal potensi
aktivitas simbolik, hal itu tidak selalu menggambarkan tindakan yang dilakukan
orang tidak selalu melakukan apa yang mereka katakan selain itu
kekuatan-kekuatan eksternal mungkin diabaikan ketika menerapkan metafora
budaya.
1.3.1. Sifat Manusia
Pendekatan subjektif menekankan bahwa manusia
punya peranan yang lebih aktif dan kreatif. Kreasi mereka sendiri bukanlah
produk lingkungan, namun mereka menciptakan lingkungan konkrets eksis secara
indefendend dari tindakan manusia. Manusia hidup dalam dunia simbolik, dan
linkungan simbolik itu berubah serta
dapat ditafsirkan dengan berbagai cara.
1.3.2. Tindakan Manusia
Bagi kaum subjektivis, tindakan muncul dari
proses sosial dalam interkasi manusia. Fokusnya, adalah perilaku yang
berkembang (emergent) yang bergantung pada konstruksi sosial yang terjadi
selama proses interakasi. Meskipun
gagasan ini akan dibahas lebih terperinci nanti pengalaman dan pandangan
subjektivitas menyarankan bahwa perilaku manajarial yang disarankan dapat
menghasilkan respon pegawai yang beda. Adalah menyenangkan berpikir bahwa para manajer
mungkin dapat memasuki suatu situasi dengan aturan-aturan universal mengenai
bagaimana mengelola organisasi.
Kaum subjektivis menekankan bahwa manusia
menciptakan keteraturan dan situasi.
Alih-alih mencoba menemukan suatu
keteraturan ilmiah (bagi mereka yang tidak eksis ), lebih bermanfaat untuk
bersikap peka atas bagaimana manusia menciptakan keteraturan, maka bagi mereka
dan konskuensi penciptaan mereka. Berdasarkan pandangan subjektivis pemahaman
atas motivasi menuntut pengetahuan mengenai aspek aspek unik peserta organisasi
dan dunia mereka ciptakan.
1.4. PENGARUH PANDANGAN DUNIA ATAS DEFINISI DAN
ANALISIS
Pandangan dunia seseorang mempunyai pengaruh
atas bagaimana seseorang mendefinisikan konsep organisasi. Kaum subjektivis
mendifinisikan organisasi sebagai perilaku pengorganisasian (organizing
behavior). Berdasarkan definisi ini pengethuan mengenai organisasi harus
diperoleh dengan melihat perilaku-perilaku khusus tersebut dan apa makna
perilaku-perilaku itu bagi mereka yang melakukannya. Seorang subjektivis tidak
berusaha mengendalikan berbagai kekuatan (struktur, perencanaan, tujuan )namun
menerangkan hal-hal tersebut.
Ketika yang ditekankan adalah interaksi antara
para peserta, seperti yang dilihat oleh seorang subjektivis, konsep organisasi
tidak terbatas pada industri-industri atau badan-badan yang besar. Organisasi
tidak berperilaku hanya orang yang berperilaku (weick, 1979).
1.5. IMPLIKASI BAGI PERILAKU ORGANISASI
1.5.1. Struktur versus Perilaku
Pendekatan subjektivis juga mengakui struktur
namun tekanan mereka adalah pada perilaku manusia. Struktur tidak independen dari
tindakan-tindakan manusia. Manusia menciptakan struktur, memelihara, dan
memeutuskannya. Terdapat orang –orang yang berpendapat struktur secara
berkesinambungan diciptakan yang bahkan membuat konsep aktivitas rutin
problematik. Suatu proses yang kreatif diperlukan bagi struktur untuk diakui
sebagai rutin. Struktur tidak sekadar ada
disana. Ia di terapkan dan di wujudkan lewat prose pengorganisasian (garfinkel, 1967;weick,1969,1979).
Pandangan subjektif menyarankan bahwa perilaku
dan tindakan spesifik merupakan kekuatan dominan dalam organisasi. Tidak ada
struktur hingga individu-individu bekerja sama untuk menciptakannya.
1.5.2. Keteramalan dan Kontrol
Pendekatan subjektif mengisyaratkan bahwa keteraturan diciptakan
oleh para peserta orgaisasi. Kaum subjektivis tidak menyangkal keteraturan
namun sekadar berpendapat bahwa tidak
terdapat keteraturan hingga keteraturan itu di kontruksi oleh anggota-anggota
organisasi.
1.5.3. Peranan Lingkungan
Kaum subjektivis memandang pentingnya
lingkungan dengan cara yang berbeda. Suatu bagian penting perilaku organisasi
adalah bagaimana para peserta menciptakan lingkungan dan bagaimana penciptaan
tersebut mempengaruhi perilaku mereka (weick, 1979). Apa yang penting adalah
apa yang tercipta ,bukan apa yang sungguh-sungguh ada disana karena apa yang
ada disana apa hanya dapat dipahani lewat proses simbolik dan menghasilkan
suatu interpretasi subjektif.
1.5.4. Kesederhanaan dan Kerumitan
Kaum subjektivis mengingatkan bahwa
konsepsi-konsepsi demikian mungkin menawarkan suatu angan-angan.ketika kekayaan
dan kerumitan perilaku manusia diabaikan apa yang tersisa bukanlah perilaku
manusia dan bukan penggambaran organisasi, Alih –alih menyederhanakan, mungkin
lebih perlu menganalisis semua kerumitan tersebut sehingga proses manusia yang
penting dapat dipertimbangkan.
Bagi kaum subjektivis, organisasi yang dibuat
dapat dipahami dengan menemukan bagaimana kehidupan organisasi diciptakan oleh
para anggotanya. Juga kaum subjektivis tertarik pada gagasan yang rumit mengenai
pembentukan dunia dan pengaruh yang ditimbulkan proses tersebut atas organisasi
(smircich, 1985 ).
Kesimpulanya :
Kita telah membahas gagasan-gagasan pokok yang
mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi dipahami, dikaji, dan dipraktikan.
Pandangan-pandangan alternatif mengenai realitas dan sifat manusia berpengaruh
atas definisi dan fungsi-fungsi yang dipersepsi mengenai komunikasi organisasi. Pandangan-pandangan tersebut
memutuskan isu-isu apa yang menjadi perhatian dan bagaimana isu-isu itu
dihampiri untuk dikaji. Selain itu, bagaimana seseoran memandang sifat tindakan
manusia akan memandu praktik-praktik komunikasi organisasi. Organisasi
diciptakan untuk dipahami bukan dibuat jadi rumit untuk para pesertanya sesuai dengan tujuan
organisasinya.
BAB II
TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
II.1. SEJARAH TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Ketika
teori aksi mandeg ditengah jalan baik secara teoritis maupun impiris, kalau
dilihat dari segi intensitas aplikasi teorinya, maka dalam keadaan kosong itu
muncullah suatu perspektif baru yang kemudian menjadi kekuatan utama ilmu
sosiologi. Perspektif yang dimaksud adalah interaksionisme simbolik. Pendekatan
ini menggunakan atau mengikuti pendekatan Weber dalam teori Aksi.
Teori
interaksionisme simbolik ini berkembang pertama kali di universitas chicago dan
dikenal pula sebagai aliran chicago. Tokoh utamanya adalah John Dewey dan
Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan teori
interaksionisme simbolik di universitas Michigan. Kemudian Dewey pindah ke chicago mempengaruhi
tokoh –tokoh sosial seperti W.I. Thomas dan G.H. Mead.
Walaupun
begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi , Interaksionisme Simbolik
adalah teori yang paling sukar
disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tak ada satupun
sumber yang dapat memberi pernyataan
tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal yakni
bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behavioralisme radikal yang
dipelopori oleh J.B. Watson. Hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori
ini yakni G.H. mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori
behavioralisme itu.
Behavioralisme
radikal berpendirian bahwa perilaku individu adalah suatu yang dapat diamati.
Ini diakui oleh Mead, Tetapi sementara Mead mengakui pentingnya pengamatan
terhadap tindakan individu itu ia juga merasa bahwa tindakan (action) itu
merupakan aspek yang terselubung dari perilaku (behavio) yang justru menurutnya
diabaikan oleh penganut behavioralisme radikal. Pelu dijelaskan disini bahwa
secara konsepsional istilah “action” mengandung makna yang berbeda dari istilah
“behavior”.
Behaviorisme
mempelajari tingkahlaku manusia secara obyektif dari luar. Sedangkan Mead dari
Interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan
teknik introspeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar
belakangi tindakan sosial itu dari sudut
aktor.
Dari
semula memang sudah terdapat antagonisme
antara pendirian interaksionisme simbolik ini dengan behaviorisme.
Interaksionisme Simbolik beranggapan behaviorisme menilai perilaku manusia
semata merupakan tanggapan terhadap rangsangan dari luar darinya. Penilaian
perilaku manusia sebagai hasil dari proses stimulus atau respons ini di pandang
oleh interaksionisme simbolik sebagai merendahkan derajat perilaku manusia
sampai batas kelakuan binatang yang memang semata-mata merupakan hasil proses
stimulus atau respon.
Perbedaan
teori ini menurut Blumer adalah interaksionisme simbolik menunjukkan kepada
sifat khas dari interkasi antar manusia. Kekhasan yang dimaksud bahwa manusia
saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekadar
reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain, tetapi didasarkan
makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain.
Teori
ini juga menentang atau menolak pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma
perilaku sosial dengan alasan yang sama. Keduanya tidak mengakui arti penting
kedudukan individu. Bagi paradigma fakta sosial , individu dipandang sebagai
orang yang terlalu mudah dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari luar
dirinya seperti kultur, norma dan peranan-peranan sosial.
II.2. ASUMSI-ASUMSI
Asumsi-asumsi
yang di kemukakan oleh Arnold Rose melalui satu seri dan proposisi-proposisi
umum sebagai berikut.
a. Asumsi 1
Manusia hidup dalam suatu lingkungan
simbol-simbol. Manusia memberikan tanggapan terhadap simbol-simbol itu seperti
juga ia memberikan tanggapan terhadap rangsangan yang bersifat fisik. Misalnya,
terhadap panas dan dingin. Pengertian
dan penghayatan terhadap simbol-simbol yang tak terhitung jumlahnya itu
merupakan hasil pelajaran dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
b. Asumsi 2
Melalui simbol-simbol manusia berkemampuan
menstimulir orang lain dengan cara –cara yang mungkin berbeda dari stimuli yang
diterimanya dari orang lain itu. Untuk memahami asumsi ini perlu dikemukakan
pendapat Mead yang membedakan antara tanda-tanda alamiah (natural signs) dan
simbol-simbol yang mengandung makna (significant symbols). Natural signs
bersifat naluriah serta menimbulkan reaksi yang sama bagi setiap orang.
contihnya, air bagi orang bagi yang haus. Significant syimbol tidak harus
menimbulkan reaksi yang sama bagi setiap orang. Satu hal yang menjadi perhatian
disini adalah bahwa simbol komunikasi merupakan proses dua arah dimana kedua
pihak saling memberikan makna atau arti terhadap simbol-simbol itu.
c. Asumsi 3
Melalui komunikasi simbol-simbol dapat
dipelajari sejumlah besar arti dan nilai-nilai, dan karena itu dapat dipelajari
cara-cara tindakan orang lain. Karena simbol-simbol adalah bagian sentral dari kehidupan manusia dan
karena simbol-simbol adalah suatu pengertian yang dipelajari, maka manusia
harus dan dapat mempelajari simbol-simbol yang tak terhitung jumlahnya.
d. Asumsi 4
Simbol , maka serta nilai-nilai yang
berhubungan dengan mereka tidak hanya terpikirkan oleh mereka dalam
bagian-bagian yang terpisah tetapi selalu dalam bentuk kelompok, yang
kadang-kadang luas dan kompleks. Artinya terdapat satuan-satuan kelompok yang
mempunyai simbol-simbol yang sama. Atau kalau dipandang dari segi simbol, akan
ada simbol kelompok.
e. Asumsi 5
Berpikir merupakan suatu proses pencarian
kemungkinan yang bersifat simbolis dan untuk mempelajari tindakan-tindakan yang
akan datang, menaksir keuntungan dan kerugian relatif menurut penilaian individual, dimana satu
diantaranya dipilih untuk dilakukan. Titik perbedaan yang paling kontras antara
pandangan interaksionisme simbolik dengan pandangan behaviorisme, dimana
behaviorisme mengabaikan pandangan yang demikian.
ü Proposisi umum (deduksi) I
Dengan mempelajari kultur dan subkultur,
manusia mampu memprediksi tindakan antara sesamanya sepanjang waktu dan
mengeksploitasi tindakan sediri untuk memprediksi tindakan orang lain.
Masyarakat melalui kulturnya menyediakan seperangkat arti yang sama terhadap
simbol-simbol tertentu.
ü Proposisi umum (deduksi) II
Individu sendiri yang menentukan barang
sesuatu yang bermakna bagi dirinya sendiri. Begitu pula sasaran tindakannya
serta sifat khas cara-cara mencapai tujuannya itu. Dimata Mead, manusia
mempunyai kepribadian sendiri dan karena itu mempunyai kemampuan untuk menciptakan
sasaran tindakan-tindakannya sendiri.
Menurut Mead manusia mempunyai sejumlah
kemungkinan tindakan dalam pemikirannya sebelum ia melakukan tindakan yang
sebenarnya. Seseorang mencobakan terlebih dahulu berbagai alternatif tindakan
itu secara mental melalui pertimbangan pemikirannya.
Sejalan dengan pemikiran Mead saya juga
beranggapan bahwa suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya
sendiri dengan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Melalui proses interaksi
dengan diri sendiri itu, individu memilih yang mana diantara stimulus yang tertuju
kepadanya itu yang akan ditanggapinya.
Gambaran diatas membawa kita kepada kosepsi yang
nyata mengenai “tindakan” menurut pandangan interaksionisme simbolik. Tindakan
menurut pandangan ini mencakup keseluruhan proses yang terlibat dalam aktivitas
manusia.
II.3. KESIMPULAN
Kehidupan
bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antara
individual dan kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya
melalui proses belajar. Tindakan sesorang dalam proses interaksi itu bukan
semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus
yang datang dari lingkungannya atau dari luar lingkungannya. Tetapi tindakan
itu merupakan hasil dari pada proses interpretasi terhadap stimulus. Jadi
merupakan hasil proses belajar, dalam arti memahami simbol-simbol, dan saling
menyesuaikan makna-makna dari simbol-simbol itu. Meskipun norma-norma,
nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan
terhadap tindakannya, namun dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya manusia mempunyai
kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya.
DAFTAR PUSTAKA
Pace,R.Wayne dan Don F. Faules, komunikasi organisasi,
penerjemah;Dedy Mulyana-edisi ke 2,Bandung,PT Remaja Rosdakarya offset,
2000
Ritzer,George
dan Douglas J. Goodman, teori sosiologi
modern, penerjemah;
Alimandan-edisi ke 6, jakarta, prenada media,2003
Ritzer,George, sosiologi ilmu pengetahuan berparadigma
ganda, penerjemah; Alimandan-edisi ke 8, jakarta, rajawali
pers, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar