Kamis, 26 April 2012

Kebebasan adalah Inti Tauhid Oleh : Muladi Mughni


Boleh di bilang, wacana seputar kebebasan hampir diidentikkan dengan hak pembelaan manusia ketika berhadapan dengan sebuah kekuatan yang membe-lenggunya. Ia seolah tersekat oleh sesuatu yang bersifat profan, privaci dan sekuler. Hampir jarang –jika tidak ingin disebut tidak sama sekali- ia dikaitkan dengan anugerah Sang Pencipta yang sesungguhnya teramat trasenden. Bahkan lebih spesifik lagi, ia sangat erat terkait dengan inti daripada tauhid.


Namun, sebelum kita menelusuri jejak keabsahan hipotesa di atas, yang lebih dahulu harus menjadi kesadaran kita ialah bias kebebasan tadi; apakah ia selalu berpihak pada individu ataukah komunal.? Keberpihakan pada individu bermakna, standar berlakunya ruang kebebasan baru akan diterima jika kebebasan itu menyentuh aspek pemenuhan hasrat masing-masing individu. Persepsi ini lacur dikenal bagi para pengagum aliran kapitalisme. Sebaliknya, apabila standar berlakunya ruang kebebasan tersebut menghampiri bidang-bidang publik (komunal) serta melewati batas-batas individual, bahkan pada tataran yang lebih ekstrim hampir tidak memperhitungkan private interest, kebebasan di sini berarti tengah melakukan keberpihakan pada komunal yang lumrah diusung oleh pengagum komunisme.


Secara historis kedua model pendekatan ruang ekspresi kebebasan di atas, telah sama-sama melampaui masa-masa percobaan yang kritis. Jatuh bangun yang tampak dalam amatan global masih terus membuat denyut dinamika ekspresi ini selalu melakukan oto-kritik dan saling silang eksperimen. Sehingga tidak asing apabila dalam kemasan kapitalistik namun sesungguhnya telah terjadi proses komunalistik, sebaliknya dalam praktik komunalistik juga sulit menghindar dari godaan kapitalistik. Jadi memang demikianlah realitasnya, proses alienasi kutub ideologi yang tengah dibuat dunia melalui slogan globalisasi justru mendulang terjadinya proses asimilasi budaya dan juga ideologi itu sendiri, dan tak lepas pergeseran watak dari kebebasan masing-masing pula.


Nah, pada titik inilah relasi tauhid sesungguhnya menemukan relevansinya. Jika tauhid yang kita kenal dengan ungkapan "Tiada tuhan selain Allah", yang secara teologis sering dijabarkan dengan ungkapan, "tidak ada sesembahan yang sesungguhnya patut disembah, kecuali Allah". Kalimat ini, sebenarnya memberikan semacam blue print kepada kita tentang makna pembebasan yang hakiki. Pembebasan dari penghambaan atas tuhan-tuhan yang absurd (tidak mutlak), menuju kepada kebenaran mutlak (Tuhan; Allah Swt). Sebab jika sasaran penghambaan mengalami bias atau terfragmentasi kepada sekian tuhan, maka akan terbayang betapa ekspresi kebebasan manusia semakin sempit dan akhirnya mengalami pemasungan sama sekali. Maka sangatlah tepat jika pada awal kalimat tauhid dimulai dengan lafdz "Lâ Ilâha…" yang mengindikasikan pesan "protes" yang keras atas penghambaan kepada segala macam tuhan. Menuju kepada hakekat Tuhan yang memberikan kebebasan tersebut ("Iĺâ Allah"). Hal ini dapat kita telisik melalui al-Qur'an (Quraisy:4), di mana penggambaran Tuhan di sana sangat jelas sebagai Dzat yang Maha Pembebas dari segala macam bentuk ketakutan, baik ketakutan dari kelaparan, ketiranian, pemasungan hak, kediktatoran, penindasan baik politik ataupun karakter, serta segala bentuk kebobrokan nilai lainnya. Pada poin ini jika kita hendak memahami dari konteks teologis. Untuk lebih lengkap baca pendekataan yang digunakan oleh Sayyid Qutub (al-'Adâlah al-Ijtima'iýah fil Islâm) dalam masalah tauhid ini.


Lalu dalam konteks antropologis, dampak yang dihasilkan melalui kesadaran pembebasan tadi, akan menempatkan manusia sebagai faktor penentu pembangunan (determinant factor of development). Dalam istilah qur'ani kita mengenal fungsi kekhilafahan atas semesta, yang hanya akan diberikan kepada insan-insan yang berkwalitas dan bebas bertanggung jawab dalam artian merdeka. Maka sesungguhnya target pemakmuran alam tidak akan pernah tercipta tanpa adanya kesadaran akan makna pembebasan di atas. Dari sini akan diperoleh informasi bahwa, hanya manusia-manusia yang memiliki visi pembebasanlah yang akan secara suka rela mengabdikan dirinya bagi kemakmuran alam kosmos ini. Sebab melalui visi ini, ia akan memperjuangkan bertahtanya siklus kebebasan bagi lingkungannya, sehingga betapapun ia berada dalam posisi "the factor" ia tidak akan rela menjadi tawanan situasinya untuk mempertahankan status quo, dan di saat yang sama, ia selalu merangsang lahirnya daya cipta yang revolusioner dalam kerangka keimananya atas kebebasan tadi.


Lalu, sebagaimana yang sempat penulis singgung di awal, akan kemanakah orientasi pembebasan ini akan bermuara, kepada kepentingan siapakah kebebasan ini diperuntukkan?. Jika pada ideologi modern kita telah sebutkan kepada kepentingan individual atau komunal. Apakah sama halnya dengan yang dialami ideologi pembebasan Tauhid ini.?


Pertama, secara teologis orientasi pembebasan yang dimaksud oleh tauhid disini erat kaitannya dengan penekanan pada obyek yang disembah yaitu Allah. Maka pemahaman awal harus diperoleh dulu dengan cara pemusatan penuh pada Zat Allah yang belum terkontaminasi dengan pagar-pagar pembatas, seperti pada gambaran Tuhan yang serba mengatur dalam aliran fatalis atau yang lain. Kemudian dengan demikian akah tercipta kelonggaran dan kemudahan dalam menangkap esensi kesatuan Tuhan dan kepalsuan tuhan-tuhan yang lainnya, yang tercermin melalui keberanian melakukan kreasi dan daya cipta tanpa harus khawatir akan rambu-rambu tuhan palsu, seperti penguasa dan pemilik kapital yang tiran dan outoritarian. Sehingga yang menjadi standard dan sekaligus penyelamatnya adalah Tuhan yang satu, bukan yang palsu.


Kedua, jika kita telah memahami inti pembebasan tauhid secara teologis, secara antropologis maka ia harus ditempatkan secara kesejarahan yang serba manusiawi. Artinya iman kepada Tauhid, dengan ini sama halnya dengan iman kepada refleksi dari Tauhid itu sendiri yaitu kepada kebebasan. Namun yang membedakan dari kebebasan hasil tauhid dengan lainnya; tidak selalu berpihak pada individual ataupun semata-mata kepada komunal. Bahkan pembagian dikotomis ini sengaja dihindarkan guna mencapai kepada substansi kebebasan Tauhid yang lebih esensial dan khas. Karena kebebasan dalam inti Tauhid ini bersumber dari konsep Ilahi yang sama-sama menghargai kedua kelas tersebut. Maka setiap individu berhak mengekspresikan kebebasannya selama tidak mengorbankan pakem maslahat komunal, dan sebaliknya setiap hajat atas nama kepentingan komunal tidak boleh menyunat aspirasi individu untuk mengekspresikan catatan-catatan (baca; kesetujuan dan gugatan) atasnya.


Demikianlah inti kebebasan prespektif tauhid ini, yaitu kebebasan yang disertai dengan semangat trasendental, atau dalam istilah populernya; kebebasan yang bertanggungjawab. Sebab kebebasan yang tidak bertepi, sama halnya dengan chaos, juga penepian tanpa kebebasan adalah eksekusi. Yang menjadi persoalan adalah, pada ruang apakah kita sepakat bahwa sesuatu itu dapat dianggap sebagai tepi, dan pada ranah manakah sesuatu itu kita anggap sebagai "silent district" yang kita bebas untuk berwacana.?.Di sinilah dibutuhkan kecerdasan dan ketaqwaan kita dalam memilahnya. Dan penulis tidak akan menggiring pembaca untuk merinci partikular mana yang harus kita yakini. Sebab penulis khawatir, hal ini justru hanya akan memasung kebebasan pembaca. Selamat menyelami kebebasan!.


survetor TA di kura-kura beach tanjung gundul bengkayang kalbar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar