LAPORAN
WAWANCARA
PEREMPUAN
DAN KERJA
METODE
PENELITIAN KUALITATIF
DI
SUSUN OLEH
MARSUM
E51110002
PROGRAM
STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2012
KATA
PENGANTAR
Segala
puji dan syukur kita kepada ALLAH SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatNya berupa nikmat sehat serta akal
pikiran yang melebihi makhluk lainnya,sehingga kita bisa menyelesaikan tugas
makalah “wawancara“
dengan tema” perempuan dan kerja
” pada mata kuliah metode penelitian
kualitatif ini dengan baik dan benar serta
lancar dalam waktu pengerjaannya.kemudian tugas makalah ini dibuat sebagai
tugas individu.
Tugas
makalah ini adalah sebuah tugas terstruktur dalam perkuliahan maka dari itu
tanpa bimbingan dan motivasi dari beberapa pihah baik secara langsung maupun tidak langsung.Oleh karena itu,pada
kesempatan ini saya selaku tim penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu
Dr. Zakiah Hassan Ghaffar selaku dosen pengampuh
mata kuliah metode penelitian kualitatif dan teman-teman semua yang telah memberikan motivasi.
Saya juga menyadari
bahwa makalah ini masih belum sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena
itu,Saya memerlukan kritik dan saran yang bisa menjadi motivasi untuk
melengkapi kekurangan pada makalah ini agar bisa bermanfaat bagi penulis dan
semua pihak yang membaca.
Pontianak,…………..
2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………….....……………ii
DAFTAR ISI …………………………………………………….…………………iii
PENDAHULUAN ………………………………………………………………….1
BAB I TINJAUAN
PUSTAKA……………………………………………………..5
BAB II METODE
PENELITIAN…………………………………………………..10
BAB III KERJA DAN PEREMPUAN
……………………………………………16
BAB IV PENUTUP
………………………………………………………………..20
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………21
LAMPIRAN ………………………………………………………………………..22
PENDAHULUAN
Penelitian ini adalah
sebuah penelitian kualitatif yang meneliti tentang perempuan dan kerja baik
seluruh indonesia maupun seprovinsi Kalimantan Barat. Perempuan adalah makhluk
ciptaan tuhan yang khusus untuk mendampingi para laki-laki dalam kehidupan di
dunia ini. Pada zaman dahulu perempuan dianggap sebagai manusia yang lemah.
Lemah dalam artian fisik yang tidak sekuat laki-laki , perempuan selalu
dipandang sebelah mata karena fisiknya yang lemah tidak bisa melakukan apa
tanpa bantuan dari para lelaki. Pada zaman perang dunia I dan II perempuan
dianggap sebagai beban dalam kondisi peperangan, sedangkan pada zaman jahiliah
orang-orang Arab yang berkeluarga apabila istrinya mengandung mereka sangat
menginginkan seorang anak laki-laki yang lahir dalam rahim ibunya, namun
apabila yang lahir adalah perempuan maka tak segan-segan mereka membunuh
keturunannya karena anak perempuan tidak berperang dan lemah dalam
segala-galanya.
Pada zaman sekarang
ketidak adilan terhadap perempuan atau gender sering kita jumpai di lingkungan
sekitar kita. Namun ketidakadilan tersebut tidak dianggap sebagai suatu masalah karena tidak ada atau kurang
adanya kesadaran dan sensitivitas terhadapnya. Sebut saja misalnya anggapan dan
pelebelan bahwa perempuan adalah makhluk yang suka bersolek untuk menarik
perhatian lawan jenis, perempuan dianggap sebagai sumber fitnah, perempuan
diposisikan sebagai makhluk yang lemah secara fisik dan intelektualltasnya
sehingga tidak cakap menjadi pemimpin dan
mobilitas terbatas.
Pembagian
kerja secara seksual juga menjadi persoalan gender. Misalnya seorang istri
harus di rumah ( memasak, mencuci, merawat anak, beesolek dan sebagainya)
sementara seorang suami harus kekantor atau bekerja diluar rumah. Ketika seorang istri ingin berkiprah di sektor
publik dianggap menyalahi kodrat sebagai perempuan. Demikian juga ketika
seorang suami mengerjakan pekerjaan domestik dianggap tabu dan menyalahi adat
dan kodratnya sebagai seorang laki-
laki. Hal-hal semacam inilah yang harus
diluruskan bahwa pekerjaan domestik dan publik bisa dilakukan oleh suami maupun
seorang istri.
Menurut Riant Nugroho dalam bukunya
Gender dan Strategi bahwa “Gender
inequalities (ketimpangan gender) merupakan system dan struktur dimana kaum
laki-laki dan perempuan menjadi korban dari system tersebut” (Nugraha; 2008;hlm9).
Dengan demikian agar dapat memahami perbedaan gender yang menyebabkan
ketidakadilan maka dapat dilihat dari berbagai manifestasinya, yaitu sebagai berikut :
a.
Marginalisasi
Marjinalisasi
artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang
mengakibatkan kemiskinan. Sesungguhnya, timbulnya kemiskinan yang terjadi
dalam masyarakat dan Negara merupakan sebagai akibat dari proses marginalisasi
yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan yang disebabkan oleh berbagai
kejadian, antara lain; penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi.
Bentuk marginalisasi yang paling dominan terjadi pada kaum perempuan yang
disebabkan oleh gender. Meskipun tidak setiap bentuk marginalisasi perempuan
disebabkan oleh gender
inequalities (ketimpangan gender), namun , yang di permasalahan disini
adalah bentuk marginalisasi yang disebabkan oleh gender differences (perbedaan gender).
Gender differences ini
sebagai akibat dari beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta
mekanisme dari proses marginalisasi kaum perempuan.
Menurut Umi Sumbulah dalam pengantar buku gender dan demokrasi adalah
“marjinalisasi terhadap kaum perempuan terjadi secara multidimensional yang
disebabkan oleh banyak hal, bisa berupa kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir
agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan”(
Umi Sumbulah, 2008; hlm xix). Contonya,
perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem
pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan
pekerja perempuan.
b. Subordinasi
Subordinasi
Artinya : suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh
satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.Telah diketahui nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah
memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan.
Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik
atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi
(nugraha, 2008; hlm 11).
Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan
domestic dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan
produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi public
laki-laki. Sepanjang penghargaan social terhadap peran domestic dan reproduksi
berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan
masih berlangsung. Misalnya, masih
sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota
legislative dan eksekutif ).
c. Stereotype
Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya
berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender
laki-laki dan perempuan.
Stereotype
itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label atau cap kepada seseorang atau kelompok
yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. “Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua
hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan
suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya”(ratna saptari, brigitte, 1997; hlm 25).
Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang
timpang atau tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau
menguasai pihak lain.
Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun
seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan. Misalny, Perempuan
dianggap cengeng dan suka digoda.
d. Violence
violence (kekerasan) artinya tindak kekerasan, baik
fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah
institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya.
Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan
dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam
ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan
sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan
sebagainya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun
ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan
anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk
diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan. Misanya, Kekerasan fisik
maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah
tangga.
e. Beban
kerja
Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan
yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin
lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan
permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja
diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di
wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan
pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau
anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih
tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang
berlipat ganda.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui untuk
mengetahui persepsi, pemahaman,dan pengalaman perempuan tentang kerja. Lebih
khusus, apa persepsi perempuan tentang kerja, apa makna atau arti kerja bagi perempuan, dan bila mereka sudah atau
pernah bekerja, bagaimana pengalaman mereka selama bekerja.
Demikianlah, gambaran tentang
penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tentang perempuan atau gender dan
kerja.
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
Pada era globlisasi ini segala sesuatu
dengan mudah untuk menjangkaunya , terlebih lagi peran koneksi internet yang
tidak terbatas selama tidak ada gangguan misalnya karena perang atau konflik
yang besar. Dengan adanya internet
manusia dengan mudah mengkses data atau informasi yang di butuhkan tanpa
membeda-bedakan seks atau gender untuk mendapat yang diinginkan di internet. Pada tinjauan pustaka
ini peneliti lebih fokus kepada peran gender diIndonesia, gender dan kerja dan
gender dan kerja bergaji.
A.
PERAN
GENDER DI INDONESIA
Pada era globlisasi ini segala sesuatu yang mungkin sulit untuk memenuhi
kebutuhan akan tetapi dengan perkembangnya teknologi informasi dengan mudah
manusi mengakses informasi yang dibutuhkan bahkan belanja pun tidak susah pergi
ke mool atau pasar swalayan, karena kemajuan tehnologi internet manusia bias
membuat took online dan mudah untuk belanja tidak susah-susah keluar rumah
tinggal tunggu pesanan datang.
Peran Gender adalah
peran-peran dalam masyarakat yang dilaksanakan oleh perempuan dan laki-laki
karena jenis kelamin mereka berbeda. Peran seorang ibu dan ayah, misalnya,
melekatkan hak dan kewajiban untuk mengasuh anak-anak dan mencarikan nafkah
bagi keluarga. Kedua perangkat peran tersebut dihubungkan dengan
perilaku-perilaku dan konsekuensinya adalah nilai-nilai sosial. Apabila
individu-indiviidu tidak melaksanakan peran gendernya sesuai dengan
harapan-harapan masyarakat, mereka akan mendapatkan sangsi yang cukup serius.
Namun, alokasi tugas-tugas dan nilai-nilai tersebut sangat bervariasi di
berbagai budaya, komunitas dan berbeda-beda dari waktu ke waktu. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa peran gender itu dikonstruksikan oleh budaya yang
dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan politiknya.
Peran gender di Indonesia bermacam- macam dalam menyumbang perkembangan
bangsa untuk menuju kesejahteraan rakyat. Peran perempuan di dunia politik
diberi peluang hanya 30% di parlement dari sejumlah pejabat pemerintah
termasuklah anggota DPR, MPR, MK dan MA. Wakil Presiden
Boediono menyatakan peran keterlibatan perempuan dalam dunia politik kian
penting. Banyak segi kehidupan bangsa, baik undang-undang maupun
kebijakan-kebijakan publik, memerlukan sentuhan perempuan. “Sangat penting bahwa setiap
kebijakan di tingkat pusat dan daerah diwarnai dan disemangati oleh perspektif
dan kepekaan perempuan," kata Boediono dalam sambutan konsolidasi jaringan
Kaukus Perempuan Parlemen seluruh Indonesia di Hotel Ritz-Carlton, Sabtu, 21
April 2012. Konsolidasi anggota DPR perempuan di berbagai daerah ini merupakan
bagian dari peringatan hari kelahiran R.A. Kartini ( tempo. com; Sabtu, 21 April 2012 | 13:13 WIB).
Dari pidato wakil presiden Republik Indonesia bahwa perempuan di harapkan berperan secara
aktif dalam merumuskan kebijakan- kebijakan baik itu mulai dari desa,
kecamatan, kabupaten, bahkan sampai tingkat pusat. Selain turut serta dalam
kepejabatan kenegaraan perempuan diharapkan bisa berperan dalam meningkatkan
perekonomian Negara mulai dari keluarga sendiri, desa, dan kecamatan.
B.
GENDER DAN
KERJA
Menurut Suprijadi dalam bukuny Nugraha
Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki
dan peran perempuan ditentukan (Nugraha, 2008; hlm 53). Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki- laki yang dibentuk
oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode waktu
tertentu (WHO, 2001).
Jadi,dari pengetian diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan pembedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Kelompok
atribut dan perilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki dan
perempuan.
Didalam dunia kerja perempuan banyak sekali kita temui perempuan sering
mendapat keringanan apabila mengalami datang bulan, hamil tua dan melahirkan.
Walaupun pekerjaannya sama dengan laki-laki, gaji sama, kedudukan sama dalam
pekerjaannya tetapi perempuan lebih di prioritaskan mengenai halangan- halangan
perempuan dalam bekerja.
Di Kalimantan Barat perempuan yang bekeja di sector-sektor perkantoran
masih saja didominasi olah kaum lelaki namun ada juga yang seimbang antara
lakik-laki dan perempuan dalam komposisi jabatan disuatu kantor dinas.
PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KEGIATAN
DAN KELOMPOK UMUR DI
KALIMANTAN BARAT
Kelompok Umur
|
Bekerja
|
Pengangguran terbuka
|
Jumlah
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
15-19
|
135 729
|
32 846
|
168 575
|
20-24
|
250 391
|
30 344
|
280 735
|
25-29
|
287 341
|
18 149
|
305 490
|
30-34
|
315 116
|
7 294
|
322 410
|
35-39
|
263 954
|
3 730
|
267 684
|
40-44
|
239 864
|
3 486
|
243 350
|
45-49
|
208 094
|
1 421
|
209 515
|
50-54
|
155 057
|
1 514
|
156 571
|
55-59
|
110 252
|
1 833
|
112 085
|
60+
|
129 907
|
1 003
|
130 910
|
Total
|
2 095 705
|
101 620
|
2 197 325
|
Penduduk berumur lima belas tahun ke atas merupakan penduduk usia kerja, di mana pada usia
ini merupakan sumber tenaga kerja produktif yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak roda pembangunan. Komposisi
penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Barat, masih didominasi oleh pekerja yang ber pendidikan
rendah, yaitu sekitar 78,84
persen adalah tamat SLTP kebawah. Lapangan usaha yang
paling dominan adalah sektor pertanian yaitu menyerap sekitar 60,43 persen dari
total angkatan kerja yang bekerja.
Jumlah Angkatan Kerja di Provinsi Kalimantan Barat pada
tahun 2010 sebanyak 2.197.325 orang, dimana 2.095.705 orang diantaranya bekerja (95,38 persen).
Dengan demikian, Angkatan Kerja Kalimantan Barat yang belum terserap pada pasar kerja pada
tahun 2010 adalah 101.620 jiwa. Hal ini mengindikasikan adanya pengangguran
terbuka sebesar 4,62 persen. Sedangkan untuk yang bukan Angkatan Kerja adalah
805.628 jiwa dimana sekitar 27,53 persennya bersekolah atau berjumlah 221.764 jiwa,
mengurus rumahtangga 475.303 jiwa (60,0 persen) dan lain-lain sebanyak
108.561 orang (13,47 persen) (BPS
Kalimantan Barat 2011).
C.
GENDER DAN KERJA BERGAJI
Setiap orang bekerja selalu mengharapkan upah atau gaji. Gaji yang
diharapka bermacam –macam sesuai dengan pekerjaan yang disandangnya. Perempuan
yang bekerja menginginkan gaji yang seimbang dengan gaji laki-laki. Jenis kelamin dan ras adalah dimensi utama penting dari keanekaragaman
tenaga kerja. Perempuan dan orang-orang dari warna yang berbeda selalu bekerja,
memberikan kontribusi baik dibayar dan pekerja tidak dibayar bagi perekonomian.
Namun sifat partisipasi mereka dalam angkatan kerja telah berubah, yang merupakan
tantangan baru untuk perempuan
untuk bersaing .
Para ahli tidak
sepakat tentang penyebab kesenjangan upah antara wanita dan pria. Beberapa
percaya kesenjangan gender merupakan bukti diskriminasi seks oleh majikan; yang
lain percaya kesenjangan mencerminkan pilihan perempuan untuk dibayar lebih
rendah karena pekerjaan atau karena sering cuti untuk urusan keluarga. Selain itu banyak pengamat
setuju, bahwa kesenjangan gaji tetap, karena apa yang disebut segregasi
pekerjaan. Istilah ini mengacu pada konsentrasi yang tidak adil dari sebuah
kelompok, seperti kelompok minoritas atau perempuan, dalam kategori pekerjaan tertentu.
Kesenjangan bayaran tinggi untuk pekerja Hispanik, misalnya, sebagian
mencerminkan konsentrasi mereka dalam beberapa pekerjaan bergaji rendah untuk perempuan .
Dalam mengatasi hal ini sangat
dibutuhkan Peran pemerintah dalam mengamankan
kesempatan kerja sama menghilangkan
diskriminasi di tempat kerja dan menjamin kesempatan kerja yang sama telah
menjadi tujuan utama dari kebijakan publik di Indonesia selama empat dekade. Bagian ini meninjau
undang-undang utama yang mengatur praktek usaha bisnis yang berkaitan dengan
kesempatan yang sama, tindakan afirmatif, dan pelecehan seksual dan rasial.
Peraturan pemerintah melarang
pelecehan seksual dan rasial. Dari dua jenis, kasus pelecehan seksual lebih
banyak terjadi, dan peraturan hukum untuk pelecehan itu telah dibuat. Tapi
kasus pelecehan ras telah berkembang sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi
majikan. Pelecehan seksual di tempat kerja terjadi ketika setiap karyawan,
wanita atau pria, mengalami perhatian seksual yang tidak diinginkan atau ketika
di tempat kerjaan dan kondisi bermusuhan atau mengancam dengan cara seksual.
Semua usaha atau bisnis, tentu saja diharuskan untuk
mematuhi hukum yang mewajibkan kesempatan kerjasama dan melarang pelecehan
seksual dan rasial, mereka yang gagal untuk melakukannya beresiko mendapat
tuntutan hukum dan dikucilkan dari masyarakat luas. Tetapi tidak cukup hanya
untuk mengikuti hukum. Yang terbaik adalah perusahaan dikelola melampaui
kepatuhan, mereka menerapkan berbagai kebijakan dan praktek untuk membuat
tempat kerja ramah, adil, dan akomodatif terhadap semua karyawan.
Usaha atau Bisnis yang mengelola
keragaman efektif menikmati keuntungan strategis. Sementara prinsip-prinsip
etika dasar, mendikte bahwa semua karyawan harus diperlakukan dengan adil dan
dengan menghormati hak-hak dasar manusia, ada juga manfaat garis bawah untuk
melakukannya.
· Perusahaan
yang mempromosikan kesempatan kerja yang sama umumnya lebih baik dalam menarik
dan mempertahankan pekerja dari semua latar belakang. Hal ini semakin penting
sebagai kolam tenaga kerja terampil tumbuh lebih beragam.
·
Bisnis dengan karyawan dari berbagai latar belakang dapat sering lebih
efektif melayani pelanggan yang juga adalah beragam.
· pasar
global menuntut tenaga kerja dengan keterampilan bahasa, kepekaanbudaya, dan
kesadaran akan perbedaan nasional dan lainnya di seluruh pasar.
Kesimpulan
Dari tinjauan pustka diatas mengeni
perempuan kerja dapat disimpulkan bahwa perempuan juga harus dijunjung tinggi
derajatnya dan kesetaraan dalam segala
hal baik dari pekerjaan,pergaulan dan lain-lainnya. Namun pada kenyataannya
masih ada kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam dunia kerja. Dalam
dunia politik khususnya di parlemen perempuan diberi kesempatan 30% untuk mengisi kursi sebagai anggota DPR dan
MPR. Kesempatan yang diberikan pemerintah kepada perempuan bisa dimanfaatkan
secara sungguh-sungguh.
BAB
II
METODE
PENELITIAN
Penelitian merupakan
suatu kegiatan ilmiah yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan
dan pemecahan berbagai suatu masalah. Beberapa ilmuan memulai kegiatan
ilmiahnya dengan melakukan penelitian. Peneliti menjadi alat bagi ilmuan untuk
mengungkap tabir yang ada dibalik fenomena yang terjadi sehingga bisa terungkap
beberapa kebenaran yang sesungguhnya dan dapat di hasilkan pengetahuan baru
yang bermanfaat. Disamping itu, penelitian sangat berguna bagi pemecahan suatu
masalah dengan mengambil pelajaran dari berbagai temuan penelitian. Dengan
demikian, penelitian pada hakekatnya adalah upaya untuk mencari jawaban yang
benar dan logis atas suatu masalah yang didasarkan atas data emperis yang
terpacaya.
Malalui penelitian
yang saksama dan sistematis, para peneliti dapat menemukan berbagai gejala atau
praktik yang dapat dijadikan solusi terbaik bagi upaya pemecahan suatu masalah.
Aktifitas suatu penelitian merupakan tahapan yang terus diikuti yang setiap
langkahnya merupakan pengalaman yang menambah wawasan baru. Dengan demikian,
penelitian merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi guru yang
terbaik yang memberikan banyak pelajaran bagi orang yang mau memanfaatkannya.
Peneliti dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian kualitatif.
Pertanyaannya, mengapa peneliti menggunakan metode penelitian ini dikarenakan subjek
yang akan diteliti relevan atau cocok menggunakan metode ini. Metode dalam
penelitin adalah sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan sebuah penelitian
tanpa pedoman maka tidak ada tujuan mau diarahkan kemana penelitian ini. Dalam
sebuah penelitian yang memakai metode penelitian kualitatif biasanya ada
unsure-unsur atau langkah-langkah penelitian mulai dari awal hingga tahap akhir
dan dapat mengambil kesimpulan.
A.
METODE
PENELITIAN KUALITATIF
1. Pengertiannya
Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau
Hal yang terpenting dari sifat suatu
suatu barang atau jasa. Hal yang terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian
atau fenomena atau gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang
dapat dijadikan suatu pelajaran yang berharga bagi suatu pengembangan konsep
dan teori ilmu pengetahuan.
Penelitian kualitatif dilakukan karena
peneliti ingin mengeksplor fenomena- fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat
deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-
pengertian tentang suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan
jasa, gambar- gambar, gaya- gaya, tata cara suatu budaya, model fisik suatu
artefak dan lain sebagainya. Berg (2007) menyatakan dalam definisinya bahwa: “Qualitative
research (QR) thus refers to the meaning , consept , definitions,
characteristics, methapors, simbols, and descriptions of things”.
Penelitian
kualitatif adalah
konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif
dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap
individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa
kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap
orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Aan Komariah,
2011;hlm 23).
Dari paparan diatas bahwa
penelitian kualiataif adalah sebuah penelitian yang bergerak dibidang ilmu non
eksakta yang setiap hasil dari penelitian yang dilakukan kebenarannya relatife
dan mengalami masa atau zaman. Dengan kata lain bahwa penelitian kualitatif
hari ini dikatakan benar apakah mungkin lima sampai sepuluh tahun kedepan
penelitian ini relevan untuk zaman itu.
2.
Tahapan Tahapan dalam Penelitian Kualiatatif
a.
Kehadiran Peneliti
Peneliti melakukan observasi mengamati dengan
cermat terhadap obyek penelitian. Untuk memperoleh data tentang penelitian ini,
maka peneliti terjun langsung ke lapangan. Kehadiran peneliti dalam penelitian
ini berperan sebagai instrumen kunci yang langsung melibatkan diri dalam
kehidupan subyek dalam waktu penelitian yang sudah ditetapkan peneliti untuk
memperoleh data sesuai dengan ciri penelitian kualitatif. Sebelum peneliti
hadir di lapangan peneliti memperoleh izin terlebih dahulu dari pihak-pihak atau
instansi-instansi terkait yang bertanggungjawab sesuai dengan prosedur yang
berlaku. Peneliti hadir sebagai pewawancara atau pengumpul data tanpa
mempengaruhi kehidupan subyek.
b. Sumber Data
Untuk
memperoleh data dan informasi yang valid, akurat serta meyakinkan yang
berkaitan dengan perempuan dan kerja. Menurut Suharsimi (2006 : 129) mengatakan
bahwa sumber data adalah "subyek darimana data diambil atau
diperoleh".
Sumber
data dalam penelitian ini adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi di
lokasi penelitian.
B.
TEKNIK
PENGUMPULAN DATA
Proses pengumpulan data merupakan bagian
terpenting dalam suatu penelitian, begitu pula dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan tekhnik relevan dengan jenis penelitian kualitatif. Beberapa
tekhnik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Tekhnik Observasi
Observasi merupakan alat pengumpul data yang dilakukan secara sistematis.
Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat
diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk
ditafsirkan secara ilmiah.
Secara umum observasi dapat dilakukan
dengan cara yaitu:
1. Observasi Partisipan
Adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observasi dengan ikut
mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan di observasi.
2. Observasi
Non Partisipan
Merupakan suatu proses pengamatan observer tanpa ikut dalam
kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai
pengamat (Margono, 2005 : 161-162).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
teknik observasi non partisipan, dimana peneliti akan diambil dalam tekhnik
observasi ini antara lain
- Data tentang perempuan dan
kerja
- Data tentang peranan perempuan
atau gender di Kalimantan Barat
b.
Teknik Wawancara
Wawancara adalah sebuah Tanya jawab yang sudah dipersiapkan
pertanyaannya namun, dalam wawancara ini berbeda dengan wawancara yang ada di
televise yang di tonton oleh orang banyak. Wawancara yang dilakukan oleh
peneliti sifatnya sangat rahasia dan sangat menjunjung tinggi privacy respondent
atau informant. Hasil wawancara yang terekam oleh alat perekam atau pun ditulis
/ dicatatan dengan buku itu simpan dalam kurun waktu lima tahun di lemari besi.
Sedangkan laporan wawancara hanya cukup di ketahui oleh respondent apabila
ingin tahu,peneliti, dan dosen matakuliah. Calon respondent atau infoman
disediakan oleh teman saya kemudian dikenalkan selanjutnya menjalin komunikasi
yang baik untuk melanjutkan wawancara pada pertemuan berikutnya.
Menurut Kartono dalam
Aan komariah interview atau wawancara adalah suatu percakapan
yang diarahkan pada suatu masalah tertentu; ini merupakan proses tanya jawab
lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik (Aan komariah 20011; 96). Dalam proses interview
terdapat 2 (dua) pihak dengan kedudukan yang berbeda. Pihak pertama berfungsi
sebagai penanya, disebut pula sebagai interviewer,
sedang pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi (Information supplyer), interviewer
atau informan. Interviewer mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai
jawaban-jawabannya. Sekaligus ia mengadakan paraphrase (menyatakan kembali isi
jawaban interviewee dengan kata-kata
lain), mengingat-ingat dan mencatat jawaban-jawaban. Disamping itu dia juga menggali
keterangan-keterangan lebih lanjut dan berusaha melakukan “probing” (rangsangan, dorongan).
Moleong dalam Satori Djaman menyebutnya dengan istilah
wawancara tim atau panel. Selain mempersiapkan instrumen sebagai pedoman
wawancara(2011:188). Peneliti dalam
mencari respondent yang akan dijadikan informant melalui teman sekelas yang
mengambil mata kuliah ini dan dosennya pun harus sama.
Pertama Wawancara
terdapat tiga bentuk antara lain:
1. Wawancara Terstruktur
Si peneliti dalam
wawancara terstruktur mempersiapkan dan menggunakan alat bantu seperti tape
recorder, gambar, brosur dan material lainnya yang dapat membantu pelaksanaan
wawancara berjalan lancar.
2. Wawancara Semistruktur
Wawancara semistruktur
lebih beas jika dibandingkan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis
ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak
terwawancaradiminta pendapat, dan ide-idenya.
3. Wawancara tak berstruktur
Wawancara
ini adalah wawancara bersifat bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman
wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan
datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar
permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara tak berstruktur yang disebut juga
wawancara terbuka, digunakan dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian
yang lebih mendalam tentang subjek yang diteliti.
Pada penelitian
pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu
atau permasalahan yang ada pada objek, sehingga peneliti dapat menemukan secara
pasti permasalahan apa yang harus diteliti. Dalam wawancara tak berstruktur,
peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga
peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh nara sumber.
Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari nara sumber, maka peneliti
dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu
tujuan. Langkah-Langkah dalam Wawancara Pengumpulan data dengan wawancara dalam
penelitian kualitatif memilikibeberapa langkah-langkah, seperti yang
dikemukakan oleh Lincoln dan Guba dalam Sugiyono (2008:322) yaitu: (a)menetapkan kepada
siapa wawancara akan dilakukan,(b) menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan
menjadi bahan pembicaraan, (c) mengawali atau membuka alur wawancara, (d) melangsungkan
alur wawancara, (e) mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya, (f)
menuliskan hasilwawancara ke dalam catatan lapangan.
c.
Alat
Dokumentasi
Dalam penelitian alat
dokumentasi yang biasa digunakan adalah :
1). Tape recorder
2). Kamera digital
3). Catatan berkala / pulpen dan
buku
4). Check lists
5). Rating scale
BAB III
PEREMPUAN DAN KERJA
Kerja merupakan suatu aktifitas utama yang dilakukan oleh manusia setiap
hari. Kerja di gunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang atau
tidak bagi setiap manusia. Pekerjaan atau kerja sering orang membicarakan
tentang ini namun, tidak lain sinonim dari kata pekerjaan adalah profesi.
Moore berpendapat
yang tercantum dalam buku ( perempuan, kerja dan perubahan sosial) mengatakan
bahwa “definisi tentang kerja sering kali tidak hanya menyangkut apa yang
dilakukan seseorang, tetapi juga menyangkut kondisi yang melatarbelakangi kerja
tersebut, serta penilaian sosial yang diberikan terhadap pekerjaan tersebut
(Ratna saptari dan brigitte,1997;hlm 14). Dalam masyarakat kita sekarang yang
telah mengalami komersiliasi serta orientasi pasar ini sering kali di adakan
pembedaan yang ketat antara kerja upahan atau kerja yang menghasilkan
pendapatan dan kerja bukan upahan atau kerja yang tidak mendatangkan
pendapatan. Manusia menganggap kerja upahan adalah kerja produktif, sedangakan
kerja bukan upahan menganggap tidak produktif. Pandangan yang demikian sebenarnya
tak lepas dari dua macam bias kultur yang ada dalam masyarakat kita. Pertama,
pandangan bahwa uang merupakan ukuran dari segalanya untuk melakukan suatu
kagiatan. Kedua, kecenderungan melakukan dikotomi tajam terhadap semua gejala
atau fenomena yang ada.
Selain akan definisi-definisi kerja
menurut responden yang saya teliti diantaranya ia mengatakan bahwa kerja adalah
suatu aktifitas yang dilakukan manusia walaupun tidak diupah atau tidak.
Berikut adalah pemahaman, persepsi, pemahaman, dan
pengalaman perempuan tentang kerja yang dikatakan oleh respondent yang kami
teliti:
Respondent dalam proyek penelitian ini memakai nama WIWID (samaran)
sudah menikah yang beralamat di
jalan Tanjung Pura kecamatan Pontianak kota kota Pontianak Kalimantan Barat.
Respondent yang saya teliti tingkat pendidikannya setara
SMA, setelah lulus sekolah ia langsung
menikah dan sekarang umurnya 24 tahun serta di karunia seorang anak. Kahidupan
Respondent saya sebelum menikah bisa dibilang taraf hidupnya menengah keatas,
pendidikannya sudah memenuhi kewajiban negara bahwa setiap warga negara wajib
sekolah sembilan tahun, sedangkan respondent yang saya teliti sudah melewati
tuntutan kewajiban belajar yang diwajibkan oleh negara.
Menurut respondent kerja adalah suatu aktivitas yang dilakukan manusia dalam
lingkup rumah tangga, kerja rumah tangga merupakan suatu kewajiban yang harus
dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah dan berkeluarga. Respondent tidak pernah kerja
bergaji dikarenakan setelah lulus
sekolah tidak bekerja langsung menikah atau selama sekolah pun tidak
pernah kerja. Ketidak ada pengalaman kerja dalam laporan ini dikarenakan
responden tidak pernah bekerja.
Apa makna kerja?
Menurut respondent makna kerja
adalah kerja dalam artian menambah penghasilan dalam rumah tangga. Respondent
ingin sekali bekerja dikarenakan sudah hidup dalam kehidupan rumah tangga, kerja sangat
penting selain menambah penghasilan juga mendapatkan
pengalaman dalam bekerja. Kalau menatap kemasa depan Respondent ingin bekerja,
misalnya bekerja di mall- mall atau di kafe-kafe tetapi, keinginan responden kerja yang dihararpkan untuk masa
depan adalah kerja jadi seorang pegawai (PNS) karena
responden mempunyai persepsi kerja jadi seorang pegawai dikarena gaji pegawai
setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan tarif gaji selain suami dan anak bisa
di masukkan dalam daftar gaji kepegawaian serta mendapat tunjangan di masa
depan apabila sudah pensiun dan usia yang sudah tua.
Dalam kehidupanya dari masa kacil sampai lulus sekolah tidak
pernah bekerja namun orang tua memberikan gambaran atau pandangan kerja kepada
respondent untuk masa depan. Orang tua respondent mengininkan anaknya kerja
dalam kepegawaian (PNS). Orang tua respondent pernah kerja digaji. Ibu
responden kerja sebagai TKI ke Arab saudi sedangkan ayah respondent kerja jadi
seorang satpam di sebuah peusahaan dikalimantan barat.
Dalam kehidupan globalisasi serba modern dengan teknologi
yang canggih respondent mempunyai persepsi bahwa seorang perempuan juga perlu
kerja bergaji selain mempunyai penghasilan sendiri dan tidak mengalami ketergantungan terha-
dap orang tua dan suami apabila menikah dan orang
tua katika ingin membeli sesuatu
keperluan sendiri tanpa menunggu pemmberian dari orang tua atau pasangan.
Perempuan adalah makhluk ciptaan tuhan yang lemah secara fisik namun secara
intelektual setara dengan laki-laki bahkan ada yang melebihi. Dalam hal ini
responden menganggap pekerjaan yang sesuai dengan perempuan adalah pekerjaan
yang dasarnya menggunakan fisik misalnya, kerja bangunan, kuli toko dan jasa
pengangkutan. Selain tidak sesuai pekerjaan untuk perempuan ada juga pekerjaan
yang sesuai dengan perempuan adalah selama pekerjaan itu tidak menggunakan
fisik tetapi intelektualitas yang dimiliknya misalnya, kantor, dan guru.
Dalam mencari kerja dizaman sekarang
ini yang serba bersaing untuk mendapatkan kerja yang mapan untuk masa depan.
Sulit atau tidak sulitnya perempuan untuk mendapatkan kerja menurut respondent
adalah tidak sulit selama perempuan itu mau bekerja misalnya kerja di mall,
cafe, dan restoran tetapi kemauan dan keberanian harus ada tetapi dalam ini
respondet tidak bekerja hanya melontarkan pendapat tanpa ada pengalaman kerja.
Dalam rumah tangga segala pekerjaan
yang ada baik itu mencuci baju,dan piring, menyapu, mengepel, maupun yang lainnya. Karena segala yang dikerjakan
itu menggunakan fisik dan menguras tenaga. Selain itu keuntungan perempuan
keuntungan perempuan kerja bergaji adalah mendapatkan uang dan pengalaman namun
kerugian perempuan kerja bergaji adalah tidak dibayarnya gaji atau upah serta mendapatkan pengalaman kerja yang
buruk.
Ketika kita sudah menikah dan
berkeluarga dalam hal ini perempuan yang sudah berkeluarga yang lebih di
prioritaskan oleh respondent adalah berkeluarga karena harus mengurus rumah tangga misalnya
mengurus anak, pekerjaan rumah tangga. Namun, disamping itu juga bekerja untuk menambah
pengahasilan suami. Tapi, kenyataannya suami respondent melarang untuk bekerja dikarenakan apabila istri
bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri takut meresa dirinya hebat sudah
punya penghasilan dan lebih ditakutkan lagi mencari pasangan yang
penghasilannya melebihi suaminya.
Selama ini menurut respondent agama tidak ada yang melarang perempuan untuk bekerja.
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh perempuan untuk mendapatkan kerja
misalnya tamat SMA atau sarjana, jadi pegawai atau polisi membutuhkan
pendidikan yang tinggi minimal SMA. Pada zaman sekarang pendidikan sangat di
utamakan dalam mencari kerja baik pendidikan itu dipeoleh dari pendidikan
formal ( sekolah dan kampus) maupun pendidikan non formal ( lembaga pelatihan
dan kursus-kursus) ini semua merupakan modal utama dalam mencari kerja.
Dalam
dunia kerja perolehan kerja antara perempuan tidak seimbang namun respondent
bependapat bahwa gaji perempuan dan laki-laki harus sama dalam pekerjaan yang
sama meskipun wanita terkadang mempunyai halangan. Secara intelektual perempuan
dan laki-laki bersaing bahkan kadang ada perempuan intelektualnya melebihi
laki-laki pada umumnya.
Kesimpulan
Dari
tanggapan serta jawaban responden bahwa perempuan menginginkan kesetaraan dalam
segala hal. Namun, karena nilai dan norma agama, budaya, dan adat yang sangat
melekat pada diri kaum laki-laki harus diatas perempuan. Sejak adanya
emansipasi wanita yang diprakarsai oleh Raden Ajeng Kartini perlahan –lahan
derajat wanita mulai setara dengan laki-laki. Serta muncul dengan gerakan
feminism didunia barat yang mulai memasuki dunia timur yaitu Indonesia.
BAB IV
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Dari semua paparan diatas dapat
penulis simpulkan bahwa perempuan juga makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang
sepatutlah dihormati akan keberadaannya. Perempuan turut menyumbang pemimpin
nomor 1di Indonosia yaitu megawati Soekarno Putri yang sekaligus juga mendorong
perkembangan bangsa ini. Di Indonesia tokoh emansipasi wanita mulai tumbuh ketika seorang Raden Ajeng Kartini
yang berusaha mengangkat derajat persamaan perempun dengan laki-laki harus sama
walaupu ada pebedaan antara kedunya yang disebabkan oleh kodrat. Wanita tidak
bisa lepas dari koderanya yang diberikan oleh sang pencipta yaitu menyusui,
melahirkan dan mensruasi dibadingkan laki-laki yang tidak mempunyai kodrat
seperti perempuan.
b.
Saran
Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki harus
diprioritaskan dalam dunia kerja. Perempuan adalah makhluk yang lemah
dibandingkan laki-laki selayaknya kita menghormati dan menyetarakan derajatnya.
Perlunya undang-undang untuk menjaga kesetaraan dalam kerja tanpa adanya
diskriminasi selama perempuan itu mampu dan semangat untuk bekerja. perempuan
adalah penyelamat dikala seseorang marah dengan kasih sayangnya perempuan akan
luluh, untuk itu tingkatkan kinerja perempuan jangan pernah minder dengan yang
lain bahwa kalian punya juga keahlian yang belum terlihat oleh orang lain
(laki-laki).
DAFTAR PUSTAKA
Satori, Djam’an dan Aan Komriah. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan
ke 3; Alfabeta. Bandung
Febriasih, H. Budi, Child
Maulina, M. M.Wahyudi, Siti Nurhidayati, dan Z. N. Anom. 2008. Gender dan Demokrasi. Cetakan I;Averros
press. Malang
Nugroho, Rian.
2008. Gender
dan Strategi pengarus- utamaanya di Indonesia. Cetakan I;pustaka pelajar.
Yogyakarta
Saptari, Ratna. 1997. Perempuan,kerja dan
perubahan sosial. Cetakan-1;PT pustaka utama grafiti. Jakarta
Berg, Bruce L. 2007. Qualitative research
methods for the social sciences. person education ,inc. Boston
egory&layout=blog&id=52&Itemid=117
BPS KDA Kalimantan Barat tahun 2011
Lampiran-lampiran dan
tabel-tabel
Peta Kalimntan Barat
Table-tabel
PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG
BEKERJA MENURUT
|
|
LAPANGAN USAHA UTAMA DAN PENDIDIKAN
TERTINGGI YANG DITAMATKAN
|
|
Population 15 Years of Age and Over Who
Worked by Main Sector and Educational
Attainment
|
|
2010
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No
|
Pendidikan / Education
|
Lapangan Usaha Utama / Main Sector
|
|
Pertanian Agriculture
|
Pertambangan Mining
|
Industri Industry
|
Listrik,Gas & Air Electricity, Gas
and Water Supply
|
Kontruksi Construction
|
|
|
|
[1]
|
[2]
|
[3]
|
[4]
|
[5]
|
[6]
|
[7]
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Tidak/Belum Pernah Sekolah
|
122 529
|
1 072
|
5 380
|
-
|
1 375
|
|
|
No Scholing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Tidak/Belum Tamat SD
|
418 525
|
14 694
|
17 859
|
81
|
27 216
|
|
|
Not Completed/Not Yet
|
|
|
|
|
|
|
|
Completed Primary School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Sekolah Dasar
|
414 663
|
19 170
|
30 467
|
131
|
29 666
|
|
|
Primary School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
SMTP/ Sederajat
|
209 150
|
12 031
|
24 490
|
594
|
22 180
|
|
|
Yunior High School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
SMTA/ Sederajat
|
97 493
|
6 762
|
20 683
|
1 844
|
20 101
|
|
|
Senior High School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Akademi dan Universitas
|
4 072
|
-
|
2 076
|
207
|
1 531
|
|
|
Academy and University
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah / Total
|
1
266 432
|
53 729
|
100 955
|
2 857
|
102 069
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No
|
Pendidikan / Education
|
Lapangan Usaha Utama / Main Sector
|
|
Perdagangan Trade
|
Angkutan & Komunikasi Transport
& Communication
|
Keuangan Finance
|
Jasa Services
|
Jumlah Total
|
|
|
|
[1]
|
[2]
|
[7]
|
[8]
|
[9]
|
[10]
|
[11]
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Tidak/Belum Pernah Sekolah
|
11 043
|
1 551
|
-
|
3 243
|
146193
|
|
|
No Scholing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Tidak/Belum Tamat SD
|
41 967
|
9 272
|
352
|
19 048
|
549014
|
|
|
Not Completed/Not Yet
|
|
|
|
|
|
|
|
Completed Primary School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
.
|
|
|
3.
|
Sekolah Dasar
|
53 254
|
14 251
|
541
|
22 527
|
584670
|
|
|
Primary School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
SMTP/ Sederajat
|
59 247
|
10 542
|
5 281
|
28 823
|
372338
|
|
|
Yunior High School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
SMTA/ Sederajat
|
97 787
|
18 417
|
6 542
|
80 918
|
350547
|
|
|
Senior High School
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Akademi dan Universitas
|
9 967
|
1 950
|
5 187
|
67 953
|
92 943
|
|
|
Academy and University
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah / Total
|
273 265
|
55 983
|
17 903
|
222 512
|
2
095705
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Catatan/Note: 1) Survei Angkatan Kerja
NasionaL/National Labour Force Survey(Agustus 2010)
|
|
|
|
2) (-) = Karakteristik tidak terdeteksi
karena jumlah sampel kecil
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber
/ Source : BPS Provinsi Kalimantan Barat / BPS-Statistics of
Kalimantan Barat
|
|
|
|