Senin, 16 Juli 2012

LAPORAN WAWANCARA


LAPORAN WAWANCARA
PEREMPUAN DAN KERJA
METODE PENELITIAN KUALITATIF



DI SUSUN OLEH
MARSUM
E51110002

UNTAN1


 






PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2012
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita kepada  ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatNya berupa nikmat sehat serta akal pikiran yang melebihi makhluk lainnya,sehingga kita bisa menyelesaikan tugas makalah “wawancara dengan tema” perempuan dan kerja ” pada mata kuliah  metode penelitian kualitatif  ini dengan baik dan benar serta lancar dalam waktu pengerjaannya.kemudian tugas makalah ini dibuat sebagai tugas individu.
Tugas makalah ini adalah sebuah tugas terstruktur dalam perkuliahan maka dari itu tanpa bimbingan dan motivasi dari beberapa pihah baik secara langsung  maupun tidak langsung.Oleh karena itu,pada kesempatan ini saya selaku tim penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Zakiah Hassan Ghaffar   selaku dosen pengampuh mata kuliah metode penelitian kualitatif dan teman-teman semua yang telah memberikan motivasi.
Saya juga menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu,Saya memerlukan kritik dan saran yang bisa menjadi motivasi untuk melengkapi kekurangan pada makalah ini agar bisa bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membaca.

Pontianak,………….. 2012

               Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………….....……………ii
DAFTAR ISI …………………………………………………….…………………iii
PENDAHULUAN ………………………………………………………………….1
BAB I TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………..5
BAB II METODE PENELITIAN…………………………………………………..10
BAB III KERJA DAN PEREMPUAN ……………………………………………16
BAB IV PENUTUP ………………………………………………………………..20
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………21
LAMPIRAN ………………………………………………………………………..22
 
PENDAHULUAN

Penelitian ini adalah sebuah penelitian kualitatif yang meneliti tentang perempuan dan kerja baik seluruh indonesia maupun seprovinsi Kalimantan Barat. Perempuan adalah makhluk ciptaan tuhan yang khusus untuk mendampingi para laki-laki dalam kehidupan di dunia ini. Pada zaman dahulu perempuan dianggap sebagai manusia yang lemah. Lemah dalam artian fisik yang tidak sekuat laki-laki , perempuan selalu dipandang sebelah mata karena fisiknya yang lemah tidak bisa melakukan apa tanpa bantuan dari para lelaki. Pada zaman perang dunia I dan II perempuan dianggap sebagai beban dalam kondisi peperangan, sedangkan pada zaman jahiliah orang-orang Arab yang berkeluarga apabila istrinya mengandung mereka sangat menginginkan seorang anak laki-laki yang lahir dalam rahim ibunya, namun apabila yang lahir adalah perempuan maka tak segan-segan mereka membunuh keturunannya karena anak perempuan tidak berperang dan lemah dalam segala-galanya.
Pada zaman sekarang ketidak adilan terhadap perempuan atau gender sering kita jumpai di lingkungan sekitar kita. Namun ketidakadilan tersebut tidak dianggap sebagai  suatu masalah karena tidak ada atau kurang adanya kesadaran dan sensitivitas terhadapnya. Sebut saja misalnya anggapan dan pelebelan bahwa perempuan adalah makhluk yang suka bersolek untuk menarik perhatian lawan jenis, perempuan dianggap sebagai sumber fitnah, perempuan diposisikan sebagai makhluk yang lemah secara fisik dan intelektualltasnya sehingga tidak cakap menjadi pemimpin dan  mobilitas terbatas.
Pembagian kerja secara seksual juga menjadi persoalan gender. Misalnya seorang istri harus di rumah ( memasak, mencuci, merawat anak, beesolek dan sebagainya) sementara seorang suami harus kekantor atau bekerja diluar rumah. Ketika  seorang istri ingin berkiprah di sektor publik dianggap menyalahi kodrat sebagai perempuan. Demikian juga ketika seorang suami mengerjakan pekerjaan domestik dianggap tabu dan menyalahi adat dan kodratnya sebagai seorang laki-
laki. Hal-hal semacam inilah yang harus diluruskan bahwa pekerjaan domestik dan publik bisa dilakukan oleh suami maupun seorang istri.
         Menurut Riant Nugroho dalam bukunya Gender dan Strategi bahwa “Gender inequalities (ketimpangan gender) merupakan system dan struktur dimana kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari system tersebut” (Nugraha; 2008;hlm9). Dengan demikian agar dapat memahami perbedaan gender yang menyebabkan ketidakadilan maka dapat dilihat dari berbagai manifestasinya,  yaitu sebagai berikut :
a.       Marginalisasi
         Marjinalisasi artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Sesungguhnya, timbulnya kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat dan Negara merupakan sebagai akibat dari proses marginalisasi yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan yang disebabkan oleh berbagai kejadian, antara lain; penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi. Bentuk marginalisasi yang paling dominan terjadi pada kaum perempuan yang disebabkan oleh gender. Meskipun tidak setiap bentuk marginalisasi perempuan disebabkan   oleh gender inequalities (ketimpangan gender), namun , yang di permasalahan disini adalah bentuk marginalisasi yang disebabkan oleh gender differences (perbedaan gender).
Gender differences ini sebagai akibat dari beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta mekanisme dari proses marginalisasi kaum perempuan. Menurut Umi Sumbulah dalam pengantar buku gender dan demokrasi adalah “marjinalisasi terhadap kaum perempuan terjadi secara multidimensional yang disebabkan oleh banyak hal, bisa berupa kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan”( Umi Sumbulah, 2008; hlm xix). Contonya, perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan.
b.      Subordinasi
         Subordinasi Artinya : suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.Telah diketahui  nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi (nugraha, 2008; hlm 11).
Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestic dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi public laki-laki. Sepanjang penghargaan social terhadap peran domestic dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung. Misalnya,  masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).
c.       Stereotype
Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan.
Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label atau cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya”(ratna saptari, brigitte, 1997; hlm 25).
Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang  yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain.
Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan. Misalny, Perempuan dianggap cengeng dan  suka digoda.
d.      Violence
violence (kekerasan) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan. Misanya, Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga.
e.       Beban kerja
Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui untuk mengetahui persepsi, pemahaman,dan pengalaman perempuan tentang kerja. Lebih khusus, apa persepsi perempuan tentang kerja, apa makna atau arti kerja  bagi perempuan, dan bila mereka sudah atau pernah bekerja, bagaimana pengalaman mereka selama bekerja.
Demikianlah, gambaran tentang penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tentang perempuan atau gender dan kerja.







BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
         Pada era globlisasi ini segala sesuatu dengan mudah untuk menjangkaunya , terlebih lagi peran koneksi internet yang tidak terbatas selama tidak ada gangguan misalnya karena perang atau konflik yang besar. Dengan adanya internet manusia dengan mudah mengkses data atau informasi yang di butuhkan tanpa membeda-bedakan seks atau gender untuk mendapat yang diinginkan di internet.  Pada tinjauan pustaka ini peneliti lebih fokus kepada peran gender diIndonesia, gender dan kerja dan gender dan kerja bergaji.  
A.    PERAN GENDER DI INDONESIA
Pada era globlisasi ini segala sesuatu yang mungkin sulit untuk memenuhi kebutuhan akan tetapi dengan perkembangnya teknologi informasi dengan mudah manusi mengakses informasi yang dibutuhkan bahkan belanja pun tidak susah pergi ke mool atau pasar swalayan, karena kemajuan tehnologi internet manusia bias membuat took online dan mudah untuk belanja tidak susah-susah keluar rumah tinggal tunggu pesanan datang.
Peran Gender adalah peran-peran dalam masyarakat yang dilaksanakan oleh perempuan dan laki-laki karena jenis kelamin mereka berbeda. Peran seorang ibu dan ayah, misalnya, melekatkan hak dan kewajiban untuk mengasuh anak-anak dan mencarikan nafkah bagi keluarga. Kedua perangkat peran tersebut dihubungkan dengan perilaku-perilaku dan konsekuensinya adalah nilai-nilai sosial. Apabila individu-indiviidu tidak melaksanakan peran gendernya sesuai dengan harapan-harapan masyarakat, mereka akan mendapatkan sangsi yang cukup serius. Namun, alokasi tugas-tugas dan nilai-nilai tersebut sangat bervariasi di berbagai budaya, komunitas dan berbeda-beda dari waktu ke waktu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peran gender itu dikonstruksikan oleh budaya yang dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan politiknya.
Peran gender di Indonesia bermacam- macam dalam menyumbang perkembangan bangsa untuk menuju kesejahteraan rakyat. Peran perempuan di dunia politik diberi peluang hanya 30% di parlement dari sejumlah pejabat pemerintah termasuklah anggota DPR, MPR, MK dan MA. Wakil Presiden Boediono menyatakan peran keterlibatan perempuan dalam dunia politik kian penting. Banyak segi kehidupan bangsa, baik undang-undang maupun kebijakan-kebijakan publik, memerlukan sentuhan perempuan.  “Sangat  penting bahwa setiap kebijakan di tingkat pusat dan daerah diwarnai dan disemangati oleh perspektif dan kepekaan perempuan," kata Boediono dalam sambutan konsolidasi jaringan Kaukus Perempuan Parlemen seluruh Indonesia di Hotel Ritz-Carlton, Sabtu, 21 April 2012. Konsolidasi anggota DPR perempuan di berbagai daerah ini merupakan bagian dari peringatan hari kelahiran R.A. Kartini ( tempo. com; Sabtu, 21 April 2012 | 13:13 WIB).
Dari pidato wakil presiden Republik Indonesia  bahwa perempuan di harapkan berperan secara aktif dalam merumuskan kebijakan- kebijakan baik itu mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, bahkan sampai tingkat pusat. Selain turut serta dalam kepejabatan kenegaraan perempuan diharapkan bisa berperan dalam meningkatkan perekonomian Negara mulai dari keluarga sendiri, desa, dan kecamatan.

B.     GENDER DAN KERJA
Menurut Suprijadi dalam bukuny Nugraha  Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki dan peran perempuan ditentukan (Nugraha, 2008; hlm 53). Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki- laki yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode waktu tertentu (WHO, 2001).
Jadi,dari pengetian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Kelompok atribut dan perilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki dan perempuan.
Didalam dunia kerja perempuan banyak sekali kita temui perempuan sering mendapat keringanan apabila mengalami datang bulan, hamil tua dan melahirkan. Walaupun pekerjaannya sama dengan laki-laki, gaji sama, kedudukan sama dalam pekerjaannya tetapi perempuan lebih di prioritaskan mengenai halangan- halangan perempuan dalam bekerja.
Di Kalimantan Barat perempuan yang bekeja di sector-sektor perkantoran masih saja didominasi olah kaum lelaki namun ada juga yang seimbang antara lakik-laki dan perempuan dalam komposisi jabatan disuatu kantor dinas.

PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KEGIATAN
DAN KELOMPOK UMUR DI KALIMANTAN BARAT
Kelompok Umur
Bekerja
Pengangguran  terbuka
Jumlah
(1)    
(2)
(3)
(4)
15-19
135 729
32 846
168 575
20-24
250 391
30 344
280 735
25-29
287 341
18 149
305 490
30-34
315 116
7 294
322 410
35-39
263 954
3 730
267 684
40-44
239 864
      3 486
243 350
45-49
208 094
1 421
209 515
50-54
155 057
1 514
156 571
55-59
110 252
1 833
112 085
60+
129 907
1 003
130 910
Total
2 095 705
101 620
2 197 325
Sumber: BPS kalimantan barat

Penduduk berumur lima belas tahun ke atas merupakan penduduk usia kerja, di mana pada usia ini merupakan sumber tenaga kerja produktif yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak roda pembangunan. Komposisi penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Barat, masih didominasi oleh pekerja yang ber pendidikan rendah, yaitu sekitar 78,84 persen adalah tamat SLTP kebawah. Lapangan usaha yang paling dominan adalah sektor pertanian yaitu menyerap sekitar 60,43 persen dari total angkatan kerja yang bekerja. Jumlah Angkatan Kerja di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2010 sebanyak 2.197.325 orang, dimana 2.095.705 orang diantaranya bekerja (95,38 persen). Dengan demikian, Angkatan Kerja Kalimantan Barat yang belum terserap pada pasar kerja pada tahun 2010 adalah 101.620 jiwa. Hal ini mengindikasikan adanya pengangguran terbuka sebesar 4,62 persen. Sedangkan untuk yang bukan Angkatan Kerja adalah 805.628 jiwa dimana sekitar 27,53 persennya bersekolah atau berjumlah 221.764 jiwa, mengurus rumahtangga 475.303 jiwa (60,0 persen) dan lain-lain sebanyak 108.561 orang (13,47 persen) (BPS Kalimantan Barat 2011).



C.     GENDER DAN KERJA BERGAJI
Setiap orang bekerja selalu mengharapkan upah atau gaji. Gaji yang diharapka bermacam –macam sesuai dengan pekerjaan yang disandangnya. Perempuan yang bekerja menginginkan gaji yang seimbang dengan gaji laki-laki. Jenis kelamin dan ras adalah dimensi utama penting dari keanekaragaman tenaga kerja. Perempuan dan orang-orang dari warna yang berbeda selalu bekerja, memberikan kontribusi baik dibayar dan pekerja tidak dibayar bagi perekonomian. Namun sifat partisipasi mereka dalam angkatan kerja telah berubah, yang merupakan tantangan baru untuk perempuan untuk bersaing .
Para ahli tidak sepakat tentang penyebab kesenjangan upah antara wanita dan pria. Beberapa percaya kesenjangan gender merupakan bukti diskriminasi seks oleh majikan; yang lain percaya kesenjangan mencerminkan pilihan perempuan untuk dibayar lebih rendah karena pekerjaan atau karena sering cuti untuk urusan keluarga. Selain itu banyak pengamat setuju, bahwa kesenjangan gaji tetap, karena apa yang disebut segregasi pekerjaan. Istilah ini mengacu pada konsentrasi yang tidak adil dari sebuah kelompok, seperti kelompok minoritas atau perempuan, dalam kategori pekerjaan tertentu. Kesenjangan bayaran tinggi untuk pekerja Hispanik, misalnya, sebagian mencerminkan konsentrasi mereka dalam beberapa pekerjaan bergaji rendah untuk perempuan .
Dalam mengatasi hal ini sangat dibutuhkan  Peran pemerintah dalam mengamankan  kesempatan kerja sama menghilangkan diskriminasi di tempat kerja dan menjamin kesempatan kerja yang sama telah menjadi tujuan utama dari kebijakan publik di Indonesia  selama empat dekade. Bagian ini meninjau undang-undang utama yang mengatur praktek usaha bisnis yang berkaitan dengan kesempatan yang sama, tindakan afirmatif, dan pelecehan seksual dan rasial.
Peraturan pemerintah melarang pelecehan seksual dan rasial. Dari dua jenis, kasus pelecehan seksual lebih banyak terjadi, dan peraturan hukum untuk pelecehan itu telah dibuat. Tapi kasus pelecehan ras telah berkembang sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi majikan. Pelecehan seksual di tempat kerja terjadi ketika setiap karyawan, wanita atau pria, mengalami perhatian seksual yang tidak diinginkan atau ketika di tempat kerjaan dan kondisi bermusuhan atau mengancam dengan cara seksual.
Semua  usaha atau bisnis, tentu saja diharuskan untuk mematuhi hukum yang mewajibkan kesempatan kerjasama dan melarang pelecehan seksual dan rasial, mereka yang gagal untuk melakukannya beresiko mendapat tuntutan hukum dan dikucilkan dari masyarakat luas. Tetapi tidak cukup hanya untuk mengikuti hukum. Yang terbaik adalah perusahaan dikelola melampaui kepatuhan, mereka menerapkan berbagai kebijakan dan praktek untuk membuat tempat kerja ramah, adil, dan akomodatif terhadap semua karyawan.
Usaha atau Bisnis yang mengelola keragaman efektif menikmati keuntungan strategis. Sementara prinsip-prinsip etika dasar, mendikte bahwa semua karyawan harus diperlakukan dengan adil dan dengan menghormati hak-hak dasar manusia, ada juga manfaat garis bawah untuk melakukannya.
·         Perusahaan yang mempromosikan kesempatan kerja yang sama umumnya lebih baik dalam menarik dan mempertahankan pekerja dari semua latar belakang. Hal ini semakin penting sebagai kolam tenaga kerja terampil tumbuh lebih beragam.
·         Bisnis dengan karyawan dari berbagai latar belakang dapat sering lebih efektif melayani pelanggan yang juga adalah beragam.
·         pasar global menuntut tenaga kerja dengan keterampilan bahasa, kepekaanbudaya, dan kesadaran akan perbedaan nasional dan lainnya di seluruh pasar.

Kesimpulan
Dari tinjauan pustka diatas mengeni perempuan kerja dapat disimpulkan bahwa perempuan juga harus dijunjung tinggi derajatnya dan kesetaraan  dalam segala hal baik dari pekerjaan,pergaulan dan lain-lainnya. Namun pada kenyataannya masih ada kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam dunia kerja. Dalam dunia politik khususnya di parlemen perempuan diberi kesempatan 30%  untuk mengisi kursi sebagai anggota DPR dan MPR. Kesempatan yang diberikan pemerintah kepada perempuan bisa dimanfaatkan secara sungguh-sungguh.


BAB II
METODE PENELITIAN

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan berbagai suatu masalah. Beberapa ilmuan memulai kegiatan ilmiahnya dengan melakukan penelitian. Peneliti menjadi alat bagi ilmuan untuk mengungkap tabir yang ada dibalik fenomena yang terjadi sehingga bisa terungkap beberapa kebenaran yang sesungguhnya dan dapat di hasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat. Disamping itu, penelitian sangat berguna bagi pemecahan suatu masalah dengan mengambil pelajaran dari berbagai temuan penelitian. Dengan demikian, penelitian pada hakekatnya adalah upaya untuk mencari jawaban yang benar dan logis atas suatu masalah yang didasarkan atas data emperis yang terpacaya.
Malalui penelitian yang saksama dan sistematis, para peneliti dapat menemukan berbagai gejala atau praktik yang dapat dijadikan solusi terbaik bagi upaya pemecahan suatu masalah. Aktifitas suatu penelitian merupakan tahapan yang terus diikuti yang setiap langkahnya merupakan pengalaman yang menambah wawasan baru. Dengan demikian, penelitian merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi guru yang terbaik yang memberikan banyak pelajaran bagi orang yang mau memanfaatkannya.
Peneliti dalam penelitiannya menggunakan metode penelitian kualitatif. Pertanyaannya, mengapa peneliti menggunakan metode penelitian ini dikarenakan subjek yang akan diteliti relevan atau cocok menggunakan metode ini. Metode dalam penelitin adalah sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan sebuah penelitian tanpa pedoman maka tidak ada tujuan mau diarahkan kemana penelitian ini. Dalam sebuah penelitian yang memakai metode penelitian kualitatif biasanya ada unsure-unsur atau langkah-langkah penelitian mulai dari awal hingga tahap akhir dan dapat mengambil kesimpulan.
A.    METODE PENELITIAN KUALITATIF
1.      Pengertiannya
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau
Hal yang terpenting dari sifat suatu suatu barang atau jasa. Hal yang terpenting  dari suatu barang atau jasa berupa kejadian atau fenomena atau gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan suatu pelajaran yang berharga bagi suatu pengembangan konsep dan teori ilmu pengetahuan.
         Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena- fenomena yang  tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian- pengertian tentang suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar- gambar, gaya- gaya, tata cara suatu budaya, model fisik suatu artefak dan lain sebagainya. Berg (2007) menyatakan dalam definisinya bahwa: “Qualitative research (QR) thus refers to the meaning , consept , definitions, characteristics, methapors, simbols, and descriptions of things”.  
 Penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Aan Komariah, 2011;hlm 23).
Dari paparan diatas bahwa penelitian kualiataif adalah sebuah penelitian yang bergerak dibidang ilmu non eksakta yang setiap hasil dari penelitian yang dilakukan kebenarannya relatife dan mengalami masa atau zaman. Dengan kata lain bahwa penelitian kualitatif hari ini dikatakan benar apakah mungkin lima sampai sepuluh tahun kedepan penelitian ini relevan untuk zaman itu.
2.      Tahapan Tahapan dalam Penelitian Kualiatatif
a.       Kehadiran Peneliti
Peneliti  melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap obyek penelitian. Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, maka peneliti terjun langsung ke lapangan. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai instrumen kunci yang langsung melibatkan diri dalam kehidupan subyek dalam waktu penelitian yang sudah ditetapkan peneliti untuk memperoleh data sesuai dengan ciri penelitian kualitatif. Sebelum peneliti hadir di lapangan peneliti memperoleh izin terlebih dahulu dari pihak-pihak atau instansi-instansi terkait yang bertanggungjawab sesuai dengan prosedur yang berlaku. Peneliti hadir sebagai pewawancara atau pengumpul data tanpa mempengaruhi kehidupan subyek.

b.   Sumber Data
      Untuk memperoleh data dan informasi yang valid, akurat serta meyakinkan yang berkaitan dengan perempuan dan kerja. Menurut Suharsimi (2006 : 129) mengatakan bahwa sumber data adalah "subyek darimana data diambil atau diperoleh".
Sumber data dalam penelitian ini adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi di lokasi penelitian.
B.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Proses pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian, begitu pula dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik relevan dengan jenis penelitian kualitatif. Beberapa tekhnik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a.      Tekhnik     Observasi
Observasi merupakan alat pengumpul data yang dilakukan secara sistematis. Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah.
Secara umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu:
1.   Observasi        Partisipan
Adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observasi dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan di observasi.
2.  Observasi Non Partisipan
Merupakan suatu proses pengamatan observer  tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat (Margono, 2005 : 161-162).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan, dimana peneliti akan diambil dalam tekhnik observasi ini antara lain
  1. Data tentang perempuan dan kerja
  2. Data tentang peranan perempuan atau gender di Kalimantan Barat
b.      Teknik Wawancara
Wawancara adalah sebuah Tanya jawab yang sudah dipersiapkan pertanyaannya namun, dalam wawancara ini berbeda dengan wawancara yang ada di televise yang di tonton oleh orang banyak. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti sifatnya sangat rahasia dan sangat menjunjung tinggi privacy respondent atau informant. Hasil wawancara yang terekam oleh alat perekam atau pun ditulis / dicatatan dengan buku itu simpan dalam kurun waktu lima tahun di lemari besi. Sedangkan laporan wawancara hanya cukup di ketahui oleh respondent apabila ingin tahu,peneliti, dan dosen matakuliah. Calon respondent atau infoman disediakan oleh teman saya kemudian dikenalkan selanjutnya menjalin komunikasi yang baik untuk melanjutkan wawancara pada pertemuan berikutnya.
Menurut Kartono dalam Aan komariah  interview atau wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu; ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik (Aan komariah 20011; 96). Dalam proses interview terdapat 2 (dua) pihak dengan kedudukan yang berbeda. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya, disebut pula sebagai interviewer, sedang pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi (Information supplyer), interviewer atau informan. Interviewer mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai jawaban-jawabannya. Sekaligus ia mengadakan paraphrase (menyatakan kembali isi jawaban interviewee dengan kata-kata lain), mengingat-ingat dan mencatat jawaban-jawaban. Disamping itu dia juga menggali keterangan-keterangan lebih lanjut dan berusaha melakukan “probing” (rangsangan, dorongan).
Moleong dalam Satori Djaman  menyebutnya dengan istilah wawancara tim atau panel. Selain mempersiapkan instrumen sebagai pedoman wawancara(2011:188). Peneliti dalam mencari respondent yang akan dijadikan informant melalui teman sekelas yang mengambil mata kuliah ini dan dosennya pun harus sama.
Pertama Wawancara terdapat tiga bentuk antara lain:
1.      Wawancara Terstruktur
Si peneliti dalam wawancara terstruktur mempersiapkan dan menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lainnya yang dapat membantu pelaksanaan wawancara berjalan lancar.
2.      Wawancara Semistruktur  
Wawancara semistruktur lebih beas jika dibandingkan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak terwawancaradiminta pendapat, dan ide-idenya.
3.      Wawancara tak berstruktur
Wawancara ini adalah wawancara bersifat bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara tak berstruktur yang disebut juga wawancara terbuka, digunakan dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian yang lebih mendalam tentang subjek yang diteliti.
Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada pada objek, sehingga peneliti dapat menemukan secara pasti permasalahan apa yang harus diteliti. Dalam wawancara tak berstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh nara sumber. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari nara sumber, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu tujuan. Langkah-Langkah dalam Wawancara Pengumpulan data dengan wawancara dalam penelitian kualitatif memilikibeberapa langkah-langkah, seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba dalam Sugiyono (2008:322) yaitu: (a)menetapkan kepada siapa wawancara akan dilakukan,(b) menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan, (c) mengawali atau membuka alur wawancara, (d) melangsungkan alur wawancara, (e) mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya, (f) menuliskan hasilwawancara ke dalam catatan lapangan.
c.       Alat Dokumentasi
Dalam penelitian alat dokumentasi yang biasa digunakan adalah :
1). Tape recorder
2). Kamera digital
3). Catatan berkala / pulpen dan buku
4). Check lists
5). Rating scale




BAB III
PEREMPUAN DAN KERJA

Kerja merupakan suatu aktifitas utama yang dilakukan oleh manusia setiap hari. Kerja di gunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang atau tidak bagi setiap manusia. Pekerjaan atau kerja sering orang membicarakan tentang ini namun, tidak lain sinonim dari kata pekerjaan adalah profesi.
Moore berpendapat yang tercantum dalam buku ( perempuan, kerja dan perubahan sosial) mengatakan bahwa “definisi tentang kerja sering kali tidak hanya menyangkut apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga menyangkut kondisi yang melatarbelakangi kerja tersebut, serta penilaian sosial yang diberikan terhadap pekerjaan tersebut (Ratna saptari dan brigitte,1997;hlm 14). Dalam masyarakat kita sekarang yang telah mengalami komersiliasi serta orientasi pasar ini sering kali di adakan pembedaan yang ketat antara kerja upahan atau kerja yang menghasilkan pendapatan dan kerja bukan upahan atau kerja yang tidak mendatangkan pendapatan. Manusia menganggap kerja upahan adalah kerja produktif, sedangakan kerja bukan upahan menganggap tidak produktif. Pandangan yang demikian sebenarnya tak lepas dari dua macam bias kultur yang ada dalam masyarakat kita. Pertama, pandangan bahwa uang merupakan ukuran dari segalanya untuk melakukan suatu kagiatan. Kedua, kecenderungan melakukan dikotomi tajam terhadap semua gejala atau fenomena yang ada.   
Selain akan definisi-definisi kerja menurut responden yang saya teliti diantaranya ia mengatakan bahwa kerja adalah suatu aktifitas yang dilakukan manusia walaupun tidak diupah atau tidak.
Berikut adalah pemahaman, persepsi, pemahaman, dan pengalaman perempuan tentang kerja yang dikatakan oleh respondent yang kami teliti:
Respondent dalam proyek penelitian ini  memakai nama WIWID  (samaran)  sudah menikah  yang beralamat di jalan Tanjung Pura kecamatan Pontianak kota kota Pontianak  Kalimantan Barat.
Respondent yang saya teliti tingkat pendidikannya setara SMA,  setelah lulus sekolah ia langsung menikah dan sekarang umurnya 24 tahun serta di karunia seorang anak. Kahidupan Respondent saya sebelum menikah bisa dibilang taraf hidupnya menengah keatas, pendidikannya sudah memenuhi kewajiban negara bahwa setiap warga negara wajib sekolah sembilan tahun, sedangkan respondent yang saya teliti sudah melewati tuntutan kewajiban belajar yang diwajibkan oleh negara.
Menurut respondent kerja adalah  suatu aktivitas yang dilakukan manusia dalam lingkup rumah tangga, kerja rumah tangga merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah dan  berkeluarga. Respondent tidak pernah kerja bergaji dikarenakan setelah lulus  sekolah tidak bekerja langsung menikah atau selama sekolah pun tidak pernah kerja. Ketidak ada pengalaman kerja dalam laporan ini dikarenakan responden tidak pernah bekerja.
Apa makna kerja?  Menurut respondent makna  kerja adalah kerja dalam artian menambah penghasilan dalam rumah tangga. Respondent ingin sekali bekerja dikarenakan sudah hidup  dalam kehidupan rumah tangga, kerja sangat penting   selain menambah penghasilan juga mendapatkan pengalaman dalam bekerja. Kalau menatap kemasa depan Respondent ingin bekerja, misalnya bekerja di mall- mall atau di kafe-kafe tetapi, keinginan  responden kerja yang dihararpkan untuk masa depan   adalah kerja jadi seorang pegawai (PNS) karena responden mempunyai persepsi kerja jadi seorang pegawai dikarena gaji pegawai setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan tarif gaji selain suami dan anak bisa di masukkan dalam daftar gaji kepegawaian serta mendapat tunjangan di masa depan apabila sudah pensiun dan usia yang sudah tua.
Dalam kehidupanya dari masa kacil sampai lulus sekolah tidak pernah bekerja namun orang tua memberikan gambaran atau pandangan kerja kepada respondent untuk masa depan. Orang tua respondent mengininkan anaknya kerja dalam kepegawaian (PNS). Orang tua respondent pernah kerja digaji. Ibu responden kerja sebagai TKI ke Arab saudi sedangkan ayah respondent kerja jadi seorang satpam di sebuah peusahaan dikalimantan barat.
Dalam kehidupan globalisasi serba modern dengan teknologi yang canggih respondent mempunyai persepsi bahwa seorang perempuan juga perlu kerja bergaji selain mempunyai penghasilan sendiri dan tidak mengalami  ketergantungan  terha-
dap  orang tua dan suami apabila menikah dan orang tua  katika ingin membeli sesuatu keperluan sendiri tanpa menunggu pemmberian dari orang tua atau pasangan. Perempuan adalah makhluk ciptaan tuhan yang lemah secara fisik namun secara intelektual setara dengan laki-laki bahkan ada yang melebihi. Dalam hal ini responden menganggap pekerjaan yang sesuai dengan perempuan adalah pekerjaan yang dasarnya menggunakan fisik misalnya, kerja bangunan, kuli toko dan jasa pengangkutan. Selain tidak sesuai pekerjaan untuk perempuan ada juga pekerjaan yang sesuai dengan perempuan adalah selama pekerjaan itu tidak menggunakan fisik tetapi intelektualitas yang dimiliknya misalnya, kantor, dan guru.
            Dalam mencari kerja dizaman sekarang ini yang serba bersaing untuk mendapatkan kerja yang mapan untuk masa depan. Sulit atau tidak sulitnya perempuan untuk mendapatkan kerja menurut respondent adalah tidak sulit selama perempuan itu mau bekerja misalnya kerja di mall, cafe, dan restoran tetapi kemauan dan keberanian harus ada tetapi dalam ini respondet tidak bekerja hanya melontarkan pendapat tanpa ada pengalaman kerja.
            Dalam rumah tangga segala pekerjaan yang ada baik itu mencuci baju,dan piring, menyapu, mengepel, maupun  yang lainnya. Karena segala yang dikerjakan itu menggunakan fisik dan menguras tenaga. Selain itu keuntungan perempuan keuntungan perempuan kerja bergaji adalah mendapatkan uang dan pengalaman namun kerugian perempuan kerja bergaji adalah tidak dibayarnya gaji atau upah  serta mendapatkan pengalaman kerja yang buruk.
            Ketika kita sudah menikah dan berkeluarga dalam hal ini perempuan yang sudah berkeluarga yang lebih di prioritaskan oleh respondent adalah berkeluarga  karena harus mengurus rumah tangga misalnya mengurus anak, pekerjaan rumah tangga. Namun,  disamping itu juga bekerja untuk menambah pengahasilan suami. Tapi, kenyataannya suami respondent melarang  untuk bekerja dikarenakan apabila istri bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri takut meresa dirinya hebat sudah punya penghasilan dan lebih ditakutkan lagi mencari pasangan yang penghasilannya melebihi suaminya.  
            Selama ini menurut respondent agama tidak ada yang melarang perempuan untuk bekerja. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh perempuan untuk mendapatkan kerja misalnya tamat SMA atau sarjana, jadi pegawai atau polisi membutuhkan pendidikan yang tinggi minimal SMA. Pada zaman sekarang pendidikan sangat di utamakan dalam mencari kerja baik pendidikan itu dipeoleh dari pendidikan formal ( sekolah dan kampus) maupun pendidikan non formal ( lembaga pelatihan dan kursus-kursus) ini semua merupakan modal utama dalam mencari kerja.
            Dalam dunia kerja perolehan kerja antara perempuan tidak seimbang namun respondent bependapat bahwa gaji perempuan dan laki-laki harus sama dalam pekerjaan yang sama meskipun wanita terkadang mempunyai halangan. Secara intelektual perempuan dan laki-laki bersaing bahkan kadang ada perempuan intelektualnya melebihi laki-laki pada umumnya.
Kesimpulan
            Dari tanggapan serta jawaban responden bahwa perempuan menginginkan kesetaraan dalam segala hal. Namun, karena nilai dan norma agama, budaya, dan adat yang sangat melekat pada diri kaum laki-laki harus diatas perempuan. Sejak adanya emansipasi wanita yang diprakarsai oleh Raden Ajeng Kartini perlahan –lahan derajat wanita mulai setara dengan laki-laki. Serta muncul dengan gerakan feminism didunia barat yang mulai memasuki dunia timur yaitu Indonesia.



BAB IV
PENUTUP

a.       Kesimpulan
Dari semua paparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa perempuan juga makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sepatutlah dihormati akan keberadaannya. Perempuan turut menyumbang pemimpin nomor 1di Indonosia yaitu megawati Soekarno Putri yang sekaligus juga mendorong perkembangan bangsa ini. Di Indonesia tokoh emansipasi wanita mulai  tumbuh ketika seorang Raden Ajeng Kartini yang berusaha mengangkat derajat persamaan perempun dengan laki-laki harus sama walaupu ada pebedaan antara kedunya yang disebabkan oleh kodrat. Wanita tidak bisa lepas dari koderanya yang diberikan oleh sang pencipta yaitu menyusui, melahirkan dan mensruasi dibadingkan laki-laki yang tidak mempunyai kodrat seperti perempuan.
b.      Saran
Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki harus diprioritaskan dalam dunia kerja. Perempuan adalah makhluk yang lemah dibandingkan laki-laki selayaknya kita menghormati dan menyetarakan derajatnya. Perlunya undang-undang untuk menjaga kesetaraan dalam kerja tanpa adanya diskriminasi selama perempuan itu mampu dan semangat untuk bekerja. perempuan adalah penyelamat dikala seseorang marah dengan kasih sayangnya perempuan akan luluh, untuk itu tingkatkan kinerja perempuan jangan pernah minder dengan yang lain bahwa kalian punya juga keahlian yang belum terlihat oleh orang lain (laki-laki).



DAFTAR PUSTAKA

Satori, Djam’an dan Aan Komriah. 2011.  Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke 3; Alfabeta. Bandung

Febriasih, H. Budi, Child Maulina, M. M.Wahyudi, Siti Nurhidayati, dan Z. N. Anom. 2008. Gender dan Demokrasi. Cetakan I;Averros press. Malang
 
Nugroho, Rian. 2008. Gender dan Strategi pengarus- utamaanya di Indonesia. Cetakan I;pustaka pelajar. Yogyakarta

Saptari, Ratna. 1997. Perempuan,kerja dan perubahan sosial. Cetakan-1;PT pustaka utama grafiti. Jakarta

Berg, Bruce L. 2007. Qualitative research methods for the social sciences. person education ,inc. Boston  

egory&layout=blog&id=52&Itemid=117


BPS  KDA Kalimantan Barat  tahun 2011








Lampiran-lampiran dan tabel-tabel

Peta Kalimntan Barat











 






Table-tabel
PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG BEKERJA MENURUT

LAPANGAN USAHA UTAMA DAN PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN

Population 15 Years of Age and Over Who Worked by Main Sector and  Educational Attainment

2010









No
Pendidikan / Education
Lapangan Usaha Utama / Main Sector

Pertanian  Agriculture
Pertambangan Mining
Industri Industry
Listrik,Gas & Air Electricity, Gas and Water Supply
Kontruksi   Construction



[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]









1.
Tidak/Belum Pernah Sekolah
 122 529
 1 072
 5 380
-
 1 375


No Scholing














2.
Tidak/Belum Tamat SD
 418 525
 14 694
 17 859
  81
 27 216


Not Completed/Not Yet 







Completed Primary School














3.
Sekolah Dasar
 414 663
 19 170
 30 467
  131
 29 666


Primary School














4.
SMTP/ Sederajat
 209 150
 12 031
 24 490
  594
 22 180


Yunior High School














5.
SMTA/ Sederajat
 97 493
 6 762
 20 683
 1 844
 20 101


Senior High School














6.
Akademi dan Universitas
 4 072
-
 2 076
  207
 1 531


Academy and University















Jumlah  / Total
1 266 432
 53 729
 100 955
 2 857
 102 069


















No
Pendidikan / Education
Lapangan Usaha Utama / Main Sector

Perdagangan Trade
Angkutan & Komunikasi Transport & Communication
Keuangan Finance
Jasa           Services
Jumlah          Total



[1]
[2]
[7]
[8]
[9]
[10]
[11]









1.
Tidak/Belum Pernah Sekolah
 11 043
 1 551
-
 3 243
 146193


No Scholing














2.
Tidak/Belum Tamat SD
 41 967
 9 272
  352
 19 048
 549014


Not Completed/Not Yet 







Completed Primary School











.


3.
Sekolah Dasar
 53 254
 14 251
  541
 22 527
 584670


Primary School














4.
SMTP/ Sederajat
 59 247
 10 542
 5 281
 28 823
 372338


Yunior High School














5.
SMTA/ Sederajat
 97 787
 18 417
 6 542
 80 918
 350547


Senior High School














6.
Akademi dan Universitas
 9 967
 1 950
 5 187
 67 953
 92 943


Academy and University















Jumlah  / Total
 273 265
 55 983
 17 903
 222 512
2 095705

















Catatan/Note:    1) Survei Angkatan Kerja NasionaL/National Labour Force Survey(Agustus 2010)



2) (-) = Karakteristik tidak terdeteksi karena jumlah sampel kecil











Sumber / Source : BPS Provinsi Kalimantan Barat / BPS-Statistics of Kalimantan Barat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar