Sosiologi
Konflik dan Rekonsiliasi
Nama ; Marsum (E51110002) UNIVERSITAS TANJUNGPURA
Konflik adalah unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Karena konflik
memliki fungsi positif, maka konflik menjadi dinamika sejarah manusia (karl
marx 1880/2003; Ibnu Khaldum, 1332-1406), selanjutnya konflik beralaih sampai
pada bagian proses pemenuhan kebutuhan manusia.
Manusia adalah makhluk konfliktis (homo conflictus), yaitu makhluk yang
selalu terlibat dalam perbedaan, pertentang, dan persaingan baik sukarela
maupun terpaksa. Dalam proses itulah terkadang kita diperhadapkan pada berbagai
masalah baik itu menyangkut tentang diri pribadi maupun dengan kelompok
masyarakat yang lainnya. Dalam masyarakat tumbuh berbagai kepentingan yang
begitu komplekss dan memerlukan tindakan tertentu dalam pemenuhannya. Keadaan
yang saling berbenturan terkadang harus membutuhkan penyelesaian yang rumit dan
membutuhkan waktu yang lama. Timbulnya perbedaan pandangan dan paradigma dari
masing-masing kelompok yang ada memicu munculnya ertikaian dan sengketa dalam
diri mereka. Kejadian itulah yang di subut konflik.
TEORI KONFLIK KLASIK
Tokoh-tokoh sosiologi konflik
klasik, seperti Ibnu Khladun (1332-1406), Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim
(1879-1912), Max Weber (1964-1920), dan George Simmel (1858-1981) mempunyai
peran besar dalam meletakan mainstream
teori sosial secar umum dan memperngaruhi
mempengaruhi konflik keontemporer pada khususnya. Berikut diuraian gagasan
pemikiran tokoh-tokoh tersebut.
Ibnu Khaldun merupakan seorang
ilmuan sosial dari Afrika di abad ke-14. masa Khaldun ditandai oleh dinamika
konflik perebutan kekuasaan oleh kelompok-kelompok yang hidup di zaman itu.
Masa itu ditandai kemunculan kelompok-kelompok yang memperebutkan kekuasaan
dalam negara kekhalifahan. Sehingga negara sering berada dalam keadan
ketidakstabilan politik. Kondisi inilah yang mempengaruhi pemikiran sosiologi
konflik Ibnu Khladun. Ibnu Khaldun memperlihatkan bagaiman dinamika konflik
dalamsejarah menusia sesungguhnya ditentukan oleh keberadaan kelompok sosial yang berbasis pada identitas,
golongan, etnis, maupun tribal. Kelompok
sosial dalam struktur sosial mana pun dalam masyarakat dunia memberi kontribusi
terhadap berbagai konflik. Hal ini dipengaruhi oleh sifat manusia yang sama
dengan hewan. Nafsu adalah kekuatan hewani yang mempu mendorong berbagai
kelompok sosial menciptakan berbagai gerakan untuk memenangi (to win) dan menguasai (to rule) (Susan, 2009: 30).
Wallace dan Wolf menengarai tiga
prinsip utama dalam sosiologi konflik Marx, (1) manusia secara alamiah memilki
angka kepentingan, (2) konflik dalam sejarah dan masyarakat kontemporer adalah
akibat benturan kepentingan kelompok sosial, (3) marx melihat keterkaitan
ideologi dan kepentingan.
Max Weber sejalan dengan filsafat
Marx yang melihat ada kepentingan alamiah dalam setiap diri manusia.
kepentingan alamiah inilah yang menodorng manusai untuk terus bergerak
menciptakan tujuan-tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat. Turrner dalam Susan
(2009: 35) menyatakan bahwa perbedaan teoritis antara Weber dan Marx terlihat
dari komitmen metodologi Weber yang mengikuti individualisme, sosiologi sebagai
perspektif interpretatif pada tindakan sosial,
sedangkan Marx mengacu pada epidemologi realis, strukturalisme, dan
materialisme sejarah sebagai ilmu pengetahuan dari era produksi.
Weber menciptakan tipe idel tindakan sosial untuk memahami pola dalam
sejarah dan masyarakat kontemporer, ia menciptakan tipe ideal dan tindakan,
hubungan sosial dan kekuasaan (Power). Weber mengklasifikasi tindakan individu
kedalam empat tipe ideal yaitu : Zwecrational,
Ini berkaitan dengan means, and ends, yaitu tujuan-tujuan
dicapai dengan menggunakan alat atau cara (means), perhitungan cepat dan
bersifat matematis. Wertrational,
tindakan nilai yang berdasarkan pada alat atau caranya tetapi nilai atau
moralitas misalnya.Tindakan afektif,
individu didominasi oleh sisi emotional. Dan yang terakhir Tindakan traditional, traditional adalah tindakan pada suatu
kebiasaan yang dijunjung tinggi sebagai system nilai yang diwariskan dan
dipelihara bersama (Campbell, 1994)
Konflik muncul dalam setiap
entitas stratifikasi sosial. Setiap staratifikasi adalah posisi yang pantas
diperjuangkan oleh manusia dan kelompoknya. Sehingga mereka memperoleh posisi
yang lebih tinggi. Untuk itulah relasi-relasi sosial diwarnai oleh usaha-usaha
untuk meraih posisi-posisi tinggi dalam stratifikasi sosial. Usaha tersebut
bisa dibaca sebagai bentuk dan kombinasi berbagai tipe ideal tindakan. Weber
berpendapat bahwa ada tiga tipe ideal relasi hubungan sosial, yaitu hubungan
sosial tradisonal-komunal, sosial konflik, dan asosialisasi. (Susan, 2009: 36)
Yang menarik dari sosiologi
konflik Max Weber adalah unsur dasar dari setiap tipe hubungan sosial, yaitu power. Pada banyak kasus terjadi
kombinasi kepentingan dari setiap unsur stratifikasi sosial sehingga
menciptakan dinamika konflik. Berikut diuraikan pokok-pokok pikiran dari para
tokoh yang melihat konflik sebagai tatanan kehidupan sosial.
Pemikiran Marx cenderung determinis ekonomi dan Weber masuk menimbang
aspek tindakan, kemudian di Perancis pada kurun waktu yang sama Emile Durkheim
memberikan perhatian di luar pemikiran marx dan Weber, pada apa yang disebutnya
sebagai fakta sosial (social fact).
Fakta sosial bersifat eksterioti, yang
berada di luar atau eksternal, dan memaksa terhadap tindakan individu-individu.
Konsep pemikiran Durkheim dapat dipahami
melalui pembagian masyarakat ke dalam masyarakat mekanik dan organik.
Masyarakat mekanik mempunyai conscience
colletive, kesadaran umum. Bentuk masyarakat yang berkesadaran kolektif ini
seperti kelompok etnis tradisonal dan kelompok tribal. Sedangakan kesadaran organik bersifat lebih kompleks dimana
individu-indivudu terhubung satu sama lain atas dasar fungsi kebutuhan. (Susan,
2009:38).
Secara
umum pandangan-pandangan para ahli tentang fenomena konflik fdapat disimpulka
bahwa Ibnu Khaldun dan Karl Marx berhasil memperlihatkan konflik kelompok dan
kelas sosial. Konflik ini mempengaruhi dinamika masyarakat dalam sejarah perkembangan masyarakat.
Seperti pembagian struktur sosial Marx yang determinisme ekonomi. Max Webwer
berhasil memberi analisis mengenai startifikasi yang lebih luas dalam bidang
ekonomi, status, dan politik. Weber memperlihatkan konflik adalah manifestasi
tindakan manusia yang ingi meraih posisi-posisi dalam setiap stratifikasi
sosial tersebut. Emile Durkheim memberi analisis pada fakta sosial.
Selanjutnya, Simmel bisa dikategorikan sebagai pelopor sosiologi konflik
melalui analisis akademisnya menganai sosialisasi dan fungsi konflik dalam
masyarakat.
v Stratifikasi
Sosial
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan
penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat
(hirarkis).
Pitirim A. Sorokin dalam karangannya
yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam
masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup
teratur.
Stratifikasi sosial menurut Drs.
Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu
sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi
kekuasaan, privilese dan prestise.
statifikasi sosial menurut max weber
adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam
suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi
kekuasaan, privilese dan prestise.
Dasar-dasar
pembentukan pelapisan social
Ø
Ukuran
kekayaan
Ø
Ukuran
kekuasaan dan wewenang
Ø
Ukuran
kehormatan
Ø
Ukuran ilmu pengetahuan
v Kesadaran
Kolektif
Integrasi masyarakat terjadi karena
adanya kesepakatan di antara anggota-anggota masyarakat terhadap nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu. Nilai-nilai kemasyarakatan ini lebih lanjut dinamakan
oleh Emile Durkheim dengan kesadaran kolektif (collective consciousness).
Kesadaran kolektif ini berada di luar individu atau bersifat eksterior, namun
memiliki daya penekan terhadap individu-individu sebagai anggota masyarakat.
Dengan kata lain, kesadaran kolektif adalah suatu consensus masyarakat yang
mengatur hubungan sosial di antara anggota masyarakat yang bersangkutan.
Kesadaran kolektif tersebut bisa berwujud aturan-aturan moral, aturan-aturan
agama, aturan-aturan tentang baik dan buruk, luhur dan mulia, dan sebagainya.
Kesadaran kolektif juga merupakan salah satu wujud dari fakta sosial yang
berkaitan dengan moralitas bersama. Pemikiran ini muncul berangkat dari meningkatnya
pembagian kerja yang berujung dengan terjadinya transformasi kesadaran
kolektif. Pada masyarakat bersolidaritas mekanis, kesadaran kolektif ini sangat
tinggi, sedangkan pada masyarakat solidaritas organis tidak demikian halnya.
Ritzer, dengan mengutip pandangan Anthony Giddens menyatakan bahwa kesadaran kolektif dalam dua tipe ideal (masyarakat mekanis dan masyarakat organis) tersebut dapat dibedakan ke dalam empat dimensi sosial yaitu volume, intensitas, rigiditas dan konten.
Ritzer, dengan mengutip pandangan Anthony Giddens menyatakan bahwa kesadaran kolektif dalam dua tipe ideal (masyarakat mekanis dan masyarakat organis) tersebut dapat dibedakan ke dalam empat dimensi sosial yaitu volume, intensitas, rigiditas dan konten.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2180255-pengertian-kesadaran-kolektif/#ixzz1oAa4TRf
v
Gerakan Sosial
Gerakan
sosial (bahasa Inggris:social movement) adalah
aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan
kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang
secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan
melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
Jenis
Para sosiolog membedakan gerakan
sosial kedalam beberapa jenis:
- Lingkup
- Gerakan reformasi - gerakan yang didedikasikan untuk
mengubah beberapa norma, biasanya hukum. Contoh gerakan semacam ini akan
mencakup seperti, serikat buruh dengan tujuan untuk meningkatkan hak-hak
pekerja, gerakan hijau yang menganjurkan serangkaian hukum
ekologi, atau sebuah gerakan pengenalan baik yang mendukung atau yang
menolak adanya, hukuman mati atau hak untuk dapat melakukan aborsi. Dalam
beberapa gerakan reformasi memungkinkan adanya penganjuran perubahan
tehadap norma-norma moral misalkan, mengutuk pornografi atau proliferasi
dari beberapa agama. Sifat gerakan semacam itu tidak hanya terkait dengan
masalah tetapi juga dengan metode yang dipergunakan, dari kemungkinan ada
penggunaan metode yang sikap reformis non-radikal yang akan digunakan
untuk pencapaian akhir tujuan, seperti dalam kasus aborsi agar dapat
tercipta adanya pembuatan hukum perundangan-undangan.
- Gerakan radikal - gerakan yang didedikasikan untuk
adanya perubahan segera terhadap sistem nilai
dengan melakukan perubahan-perubahan secara substansi dan mendasar, tidak
seperti gerakan reformasi, Contohnya termasuk Gerakan
Hak Sipil Amerika
yang penuh menuntut hak-hak sipil dan persamaan di bawah hukum untuk
semua orang Amerika (gerakan ini luas dan mencakup hampir seluruh
unsur-unsur radikal dan reformis), terlepas dari ras,
yang di Polandia dikenal dengan nama Solidaritas
/(Solidarność) gerakan yang menuntut transformasi dari sebuah tata
nilai politik Stalinisme menuju kepada tata nilai sistem poltik sistem ekonomi
atau ke dalam tata nilai sistem poltik demokrasi
atau di Afrika Selatan disebut gerakan penhuni gubuk Abahlali baseMjondolo yang menuntut dimasukkannya para penghuni gubuk
secara penuh ke dalam penghunian kehidupan kota.
- Jenis perubahan
- Gerakan Inovasi - gerakan yang ingin mengaktifkan
norma-norma tertentu, nilai-nilai, dan lain-lain gerakan advokasi yang
tak umum kesengajaan untuk efek dan menjamin keamanan teknologi yang tak
umum adalah contoh dari gerakan inovasi.
- Gerakan Konservatif - gerakan yang ingin menjaga
norma-norma yang ada, nilai, dan sebagainya Sebagai contoh, anti-abad
ke-19, gerakan modern menentang penyebaran makanan transgenik dapat
dilihat sebagai gerakan konservatif dalam bahwa mereka bertujuan untuk
melawan perubahan teknologi secara spesifik, namun mereka dengan cara
yang progresif gerakan yang hanya bersikap anti-perubahan (misalnya
menjadi anti-imigrasi) sedang untuk hasil tujuan kepentingan tidak pernah
didapat hanya merupakan bersifat bertahan.
- Target
- Gerakan fokus berkelompok - bertujuan memengaruhi atau
terfokus pada kelompok atau masyarakat pada umumnya, misalnya,
menganjurkan perubahan sistem politik. Beberapa kelompok ini akan berubah
atau menjadi atau akan bergabung dengan partai politik, tetapi banyak
tetap berada di luar sistem partai politik partai.
- Gerakan fokus Individu - fokus pada yang memengaruhi
secara personal atau individu. Sebagian besar dari gerakan-gerakan
keagamaan akan termasuk dalam kategori ini.
- Metode kerja
- Gerakan damai yang memperlihatkan untuk berdiri
kontras dengan gerakan 'kekerasan'. Gerakan
Hak-Hak Sipil Amerika,
Gerakan Solidaritas Polandia yang tanpa penggunaan kekerasan, selalu
berorientasi sipil dan sayap gerakan kemerdekaan India boleh dimasukan ke
dalam kategori ini.
- Gerakan kekerasan umumnya merupakan gerakan bersenjata
misalkan berbagai Tentara Pembebasan Nasional seperti, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista dan gerakan pemberontakan bersenjata lainnya.
- Lama dan baru
- Gerakan lama - gerakan untuk perubahan yang telah ada
sejak awal masyarakat, sebagian besar merupakan gerakan-gerakan abad
ke-19 berjuang untuk kelompok-kelompok sosial tertentu, seperti kelas
pekerja, petani, orang kulit putih, kaum bangsawan, keagamaan, laki-laki.
Mereka biasanya berpusat di sekitar beberapa tujuan materialistik seperti
meningkatkan standar hidup atau, misalnya, otonomi politik kelas pekerja.
- Gerakan baru - gerakan yang menjadi dominan mulai dari
paruh kedua abad ke-20 - seperti gerakan feminis, gerakan pro-choice,
gerakan hak-hak sipil, gerakan lingkungan, gerakan perangkat lunak bebas,
gerakan hak-hak gay, gerakan perdamaian, gerakan anti-nuklir, gerakan
alter-globalisasi dan lain lain, Kadang-kadang gerakan ini dikenal
sebagai gerakan sosial baru. Mereka biasanya berpusat di sekitar isu-isu
yang sama yang tidak terpisahkan dari masalah sosial.
- Jangkauan
- Gerakan secara internasional - gerakan sosial yang
mempunyai tujuan serta sasaran secara global. Gerakan-gerakan seperti
yang pertama kali dilakukan aliran Marx kemudian seperti Forum Sosial
Dunia, Gerakan atiglobalisasi dan gerakan anarkis berusaha untuk mengubah
masyarakat secara global.
- Gerakan lokal - sebagian besar dari gerakan sosial
memiliki lingkup lokal.gerakan yang didasarkan pada tujuan lokal atau
regional, seperti melindungi daerah alam tertentu, melobi untuk penurunan
tarif tol di jalan tol tertentu, atau mempertahankan bangunan yang akan
dihancurkan untuk gentrifikasi agar dapat mengubahnya menjadi pusat-pusat
sosial.
- Gerakan semua tingkatan - gerakan sosial yang
berkaitan dengan kompleksitas pemerintahan di abad ke-21 dan bertujuan
untuk memiliki pengaruh di tingkat lokal, regional, nasional dan
internasional.
Dinamika gerakan sosial
Tahapan gerakan sosial
Gerakan sosial tidak bersifat
terus-menerus karena memiliki siklus hidup
kurang-lebih sebagai berikut: diciptakan, tumbuh, pencapaian sasaran akhir atau
berikut kegagalannya , terkooptasi dan kehilangan semangat.
v Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah
proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari
satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut
sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory).
Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan
oleh individu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar