Kamis, 19 April 2012


Sosiologi Konflik dan Rekonsiliasi
Nama              ; Marsum  (E51110002) UNIVERSITAS TANJUNGPURA
Konflik adalah unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Karena konflik memliki fungsi positif, maka konflik menjadi dinamika sejarah manusia (karl marx 1880/2003; Ibnu Khaldum, 1332-1406), selanjutnya konflik beralaih sampai pada bagian proses pemenuhan kebutuhan manusia.
            Manusia adalah makhluk konfliktis (homo conflictus), yaitu makhluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentang, dan persaingan baik sukarela maupun terpaksa. Dalam proses itulah terkadang kita diperhadapkan pada berbagai masalah baik itu menyangkut tentang diri pribadi maupun dengan kelompok masyarakat yang lainnya. Dalam masyarakat tumbuh berbagai kepentingan yang begitu komplekss dan memerlukan tindakan tertentu dalam pemenuhannya. Keadaan yang saling berbenturan terkadang harus membutuhkan penyelesaian yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama. Timbulnya perbedaan pandangan dan paradigma dari masing-masing kelompok yang ada memicu munculnya ertikaian dan sengketa dalam diri mereka. Kejadian itulah yang di subut konflik.
TEORI KONFLIK KLASIK
Tokoh-tokoh sosiologi konflik klasik, seperti Ibnu Khladun (1332-1406), Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1964-1920), dan George Simmel (1858-1981) mempunyai peran besar dalam meletakan mainstream teori sosial secar umum dan  memperngaruhi mempengaruhi konflik keontemporer pada khususnya. Berikut diuraian gagasan pemikiran tokoh-tokoh tersebut.
Ibnu Khaldun merupakan seorang ilmuan sosial dari Afrika di abad ke-14. masa Khaldun ditandai oleh dinamika konflik perebutan kekuasaan oleh kelompok-kelompok yang hidup di zaman itu. Masa itu ditandai kemunculan kelompok-kelompok yang memperebutkan kekuasaan dalam negara kekhalifahan. Sehingga negara sering berada dalam keadan ketidakstabilan politik. Kondisi inilah yang mempengaruhi pemikiran sosiologi konflik Ibnu Khladun. Ibnu Khaldun memperlihatkan bagaiman dinamika konflik dalamsejarah menusia sesungguhnya ditentukan oleh keberadaan  kelompok sosial yang berbasis pada identitas, golongan, etnis, maupun tribal. Kelompok sosial dalam struktur sosial mana pun dalam masyarakat dunia memberi kontribusi terhadap berbagai konflik. Hal ini dipengaruhi oleh sifat manusia yang sama dengan hewan. Nafsu adalah kekuatan hewani yang mempu mendorong berbagai kelompok sosial menciptakan berbagai gerakan untuk memenangi (to win) dan menguasai (to rule) (Susan, 2009: 30).
Wallace dan Wolf menengarai tiga prinsip utama dalam sosiologi konflik Marx, (1) manusia secara alamiah memilki angka kepentingan, (2) konflik dalam sejarah dan masyarakat kontemporer adalah akibat benturan kepentingan kelompok sosial, (3) marx melihat keterkaitan ideologi dan kepentingan.    
Max Weber sejalan dengan filsafat Marx yang melihat ada kepentingan alamiah dalam setiap diri manusia. kepentingan alamiah inilah yang menodorng manusai untuk terus bergerak menciptakan tujuan-tujuan dan nilai-nilai dalam masyarakat. Turrner dalam Susan (2009: 35) menyatakan bahwa perbedaan teoritis antara Weber dan Marx terlihat dari komitmen metodologi Weber yang mengikuti individualisme, sosiologi sebagai perspektif interpretatif pada tindakan sosial,  sedangkan Marx mengacu pada epidemologi realis, strukturalisme, dan materialisme sejarah sebagai ilmu pengetahuan dari era produksi.
Weber menciptakan tipe idel tindakan sosial untuk memahami pola dalam sejarah dan masyarakat kontemporer, ia menciptakan tipe ideal dan tindakan, hubungan sosial dan kekuasaan (Power). Weber mengklasifikasi tindakan individu kedalam empat tipe ideal yaitu : Zwecrational, Ini berkaitan dengan means, and ends, yaitu tujuan-tujuan dicapai dengan menggunakan alat atau cara (means), perhitungan cepat dan bersifat matematis. Wertrational, tindakan nilai yang berdasarkan pada alat atau caranya tetapi nilai atau moralitas misalnya.Tindakan afektif, individu didominasi oleh sisi emotional. Dan yang terakhir Tindakan traditional, traditional adalah tindakan pada suatu kebiasaan yang dijunjung tinggi sebagai system nilai yang diwariskan dan dipelihara bersama (Campbell, 1994)
Konflik muncul dalam setiap entitas stratifikasi sosial. Setiap staratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh manusia dan kelompoknya. Sehingga mereka memperoleh posisi yang lebih tinggi. Untuk itulah relasi-relasi sosial diwarnai oleh usaha-usaha untuk meraih posisi-posisi tinggi dalam stratifikasi sosial. Usaha tersebut bisa dibaca sebagai bentuk dan kombinasi berbagai tipe ideal tindakan. Weber berpendapat bahwa ada tiga tipe ideal relasi hubungan sosial, yaitu hubungan sosial tradisonal-komunal, sosial konflik, dan asosialisasi. (Susan, 2009: 36)
Yang menarik dari sosiologi konflik Max Weber adalah unsur dasar dari setiap tipe hubungan sosial, yaitu power. Pada banyak kasus terjadi kombinasi kepentingan dari setiap unsur stratifikasi sosial sehingga menciptakan dinamika konflik. Berikut diuraikan pokok-pokok pikiran dari para tokoh yang melihat konflik sebagai tatanan kehidupan sosial.
   Pemikiran Marx cenderung determinis ekonomi dan Weber masuk menimbang aspek tindakan, kemudian di Perancis pada kurun waktu yang sama Emile Durkheim memberikan perhatian di luar pemikiran marx dan Weber, pada apa yang disebutnya sebagai fakta sosial (social fact). Fakta sosial bersifat eksterioti, yang berada di luar atau eksternal, dan memaksa terhadap tindakan individu-individu.
Konsep pemikiran Durkheim dapat dipahami melalui pembagian masyarakat ke dalam masyarakat mekanik dan organik. Masyarakat mekanik mempunyai conscience colletive, kesadaran umum. Bentuk masyarakat yang berkesadaran kolektif ini seperti kelompok etnis tradisonal dan kelompok tribal. Sedangakan kesadaran organik bersifat lebih kompleks dimana individu-indivudu terhubung satu sama lain atas dasar fungsi kebutuhan. (Susan, 2009:38).
Secara umum pandangan-pandangan para ahli tentang fenomena konflik fdapat disimpulka bahwa Ibnu Khaldun dan Karl Marx berhasil memperlihatkan konflik kelompok dan kelas sosial. Konflik ini mempengaruhi dinamika masyarakat  dalam sejarah perkembangan masyarakat. Seperti pembagian struktur sosial Marx yang determinisme ekonomi. Max Webwer berhasil memberi analisis mengenai startifikasi yang lebih luas dalam bidang ekonomi, status, dan politik. Weber memperlihatkan konflik adalah manifestasi tindakan manusia yang ingi meraih posisi-posisi dalam setiap stratifikasi sosial tersebut. Emile Durkheim memberi analisis pada fakta sosial. Selanjutnya, Simmel bisa dikategorikan sebagai pelopor sosiologi konflik melalui analisis akademisnya menganai sosialisasi dan fungsi konflik dalam masyarakat.
v  Stratifikasi Sosial    
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).
Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
statifikasi sosial menurut max weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Dasar-dasar pembentukan pelapisan social
Ø  Ukuran kekayaan
Ø  Ukuran kekuasaan dan wewenang
Ø  Ukuran kehormatan
Ø   Ukuran ilmu pengetahuan

v  Kesadaran Kolektif
Integrasi masyarakat terjadi karena adanya kesepakatan di antara anggota-anggota masyarakat terhadap nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Nilai-nilai kemasyarakatan ini lebih lanjut dinamakan oleh Emile Durkheim dengan kesadaran kolektif (collective consciousness). Kesadaran kolektif ini berada di luar individu atau bersifat eksterior, namun memiliki daya penekan terhadap individu-individu sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kesadaran kolektif adalah suatu consensus masyarakat yang mengatur hubungan sosial di antara anggota masyarakat yang bersangkutan. Kesadaran kolektif tersebut bisa berwujud aturan-aturan moral, aturan-aturan agama, aturan-aturan tentang baik dan buruk, luhur dan mulia, dan sebagainya. Kesadaran kolektif juga merupakan salah satu wujud dari fakta sosial yang berkaitan dengan moralitas bersama. Pemikiran ini muncul berangkat dari meningkatnya pembagian kerja yang berujung dengan terjadinya transformasi kesadaran kolektif. Pada masyarakat bersolidaritas mekanis, kesadaran kolektif ini sangat tinggi, sedangkan pada masyarakat solidaritas organis tidak demikian halnya.
Ritzer, dengan mengutip pandangan Anthony Giddens menyatakan bahwa kesadaran kolektif dalam dua tipe ideal (masyarakat mekanis dan masyarakat organis) tersebut dapat dibedakan ke dalam empat dimensi sosial yaitu volume, intensitas, rigiditas dan konten.

v  Gerakan Sosial

Gerakan sosial (bahasa Inggris:social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
Jenis
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7e/Types_of_social_movements.svg/400px-Types_of_social_movements.svg.png
http://bits.wikimedia.org/skins-1.18/common/images/magnify-clip.png
Jenis gerakan sosial.[1]
Para sosiolog membedakan gerakan sosial kedalam beberapa jenis:
  • Lingkup
    • Gerakan reformasi - gerakan yang didedikasikan untuk mengubah beberapa norma, biasanya hukum. Contoh gerakan semacam ini akan mencakup seperti, serikat buruh dengan tujuan untuk meningkatkan hak-hak pekerja, gerakan hijau yang menganjurkan serangkaian hukum ekologi, atau sebuah gerakan pengenalan baik yang mendukung atau yang menolak adanya, hukuman mati atau hak untuk dapat melakukan aborsi. Dalam beberapa gerakan reformasi memungkinkan adanya penganjuran perubahan tehadap norma-norma moral misalkan, mengutuk pornografi atau proliferasi dari beberapa agama. Sifat gerakan semacam itu tidak hanya terkait dengan masalah tetapi juga dengan metode yang dipergunakan, dari kemungkinan ada penggunaan metode yang sikap reformis non-radikal yang akan digunakan untuk pencapaian akhir tujuan, seperti dalam kasus aborsi agar dapat tercipta adanya pembuatan hukum perundangan-undangan.
    • Gerakan radikal - gerakan yang didedikasikan untuk adanya perubahan segera terhadap sistem nilai dengan melakukan perubahan-perubahan secara substansi dan mendasar, tidak seperti gerakan reformasi, Contohnya termasuk Gerakan Hak Sipil Amerika yang penuh menuntut hak-hak sipil dan persamaan di bawah hukum untuk semua orang Amerika (gerakan ini luas dan mencakup hampir seluruh unsur-unsur radikal dan reformis), terlepas dari ras, yang di Polandia dikenal dengan nama Solidaritas /(Solidarność) gerakan yang menuntut transformasi dari sebuah tata nilai politik Stalinisme menuju kepada tata nilai sistem poltik sistem ekonomi atau ke dalam tata nilai sistem poltik demokrasi atau di Afrika Selatan disebut gerakan penhuni gubuk Abahlali baseMjondolo yang menuntut dimasukkannya para penghuni gubuk secara penuh ke dalam penghunian kehidupan kota.
  • Jenis perubahan
    • Gerakan Inovasi - gerakan yang ingin mengaktifkan norma-norma tertentu, nilai-nilai, dan lain-lain gerakan advokasi yang tak umum kesengajaan untuk efek dan menjamin keamanan teknologi yang tak umum adalah contoh dari gerakan inovasi.
    • Gerakan Konservatif - gerakan yang ingin menjaga norma-norma yang ada, nilai, dan sebagainya Sebagai contoh, anti-abad ke-19, gerakan modern menentang penyebaran makanan transgenik dapat dilihat sebagai gerakan konservatif dalam bahwa mereka bertujuan untuk melawan perubahan teknologi secara spesifik, namun mereka dengan cara yang progresif gerakan yang hanya bersikap anti-perubahan (misalnya menjadi anti-imigrasi) sedang untuk hasil tujuan kepentingan tidak pernah didapat hanya merupakan bersifat bertahan.
  • Target
    • Gerakan fokus berkelompok - bertujuan memengaruhi atau terfokus pada kelompok atau masyarakat pada umumnya, misalnya, menganjurkan perubahan sistem politik. Beberapa kelompok ini akan berubah atau menjadi atau akan bergabung dengan partai politik, tetapi banyak tetap berada di luar sistem partai politik partai.
    • Gerakan fokus Individu - fokus pada yang memengaruhi secara personal atau individu. Sebagian besar dari gerakan-gerakan keagamaan akan termasuk dalam kategori ini.
  • Metode kerja
    • Gerakan damai yang memperlihatkan untuk berdiri kontras dengan gerakan 'kekerasan'. Gerakan Hak-Hak Sipil Amerika, Gerakan Solidaritas Polandia yang tanpa penggunaan kekerasan, selalu berorientasi sipil dan sayap gerakan kemerdekaan India boleh dimasukan ke dalam kategori ini.
    • Gerakan kekerasan umumnya merupakan gerakan bersenjata misalkan berbagai Tentara Pembebasan Nasional seperti, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista dan gerakan pemberontakan bersenjata lainnya.
  • Lama dan baru
    • Gerakan lama - gerakan untuk perubahan yang telah ada sejak awal masyarakat, sebagian besar merupakan gerakan-gerakan abad ke-19 berjuang untuk kelompok-kelompok sosial tertentu, seperti kelas pekerja, petani, orang kulit putih, kaum bangsawan, keagamaan, laki-laki. Mereka biasanya berpusat di sekitar beberapa tujuan materialistik seperti meningkatkan standar hidup atau, misalnya, otonomi politik kelas pekerja.
    • Gerakan baru - gerakan yang menjadi dominan mulai dari paruh kedua abad ke-20 - seperti gerakan feminis, gerakan pro-choice, gerakan hak-hak sipil, gerakan lingkungan, gerakan perangkat lunak bebas, gerakan hak-hak gay, gerakan perdamaian, gerakan anti-nuklir, gerakan alter-globalisasi dan lain lain, Kadang-kadang gerakan ini dikenal sebagai gerakan sosial baru. Mereka biasanya berpusat di sekitar isu-isu yang sama yang tidak terpisahkan dari masalah sosial.
  • Jangkauan
    • Gerakan secara internasional - gerakan sosial yang mempunyai tujuan serta sasaran secara global. Gerakan-gerakan seperti yang pertama kali dilakukan aliran Marx kemudian seperti Forum Sosial Dunia, Gerakan atiglobalisasi dan gerakan anarkis berusaha untuk mengubah masyarakat secara global.
    • Gerakan lokal - sebagian besar dari gerakan sosial memiliki lingkup lokal.gerakan yang didasarkan pada tujuan lokal atau regional, seperti melindungi daerah alam tertentu, melobi untuk penurunan tarif tol di jalan tol tertentu, atau mempertahankan bangunan yang akan dihancurkan untuk gentrifikasi agar dapat mengubahnya menjadi pusat-pusat sosial.
    • Gerakan semua tingkatan - gerakan sosial yang berkaitan dengan kompleksitas pemerintahan di abad ke-21 dan bertujuan untuk memiliki pengaruh di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional.
Dinamika gerakan sosial
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d5/Stages_of_social_movements.svg/400px-Stages_of_social_movements.svg.png

Tahapan gerakan sosial
Gerakan sosial tidak bersifat terus-menerus karena memiliki siklus hidup kurang-lebih sebagai berikut: diciptakan, tumbuh, pencapaian sasaran akhir atau berikut kegagalannya , terkooptasi dan kehilangan semangat.

v  Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar