Berbicara mengenai modernisasi di dunia
ke 3, maka hal ini tidak lepas dari campur tangan dari negara-negara
maju. Namun, apa yang dilakukan negara maju dalam upaya memodernkan
negara dunia ke 3 ini nampaknya memang dimuati berbagai kepentingan yang
pada akhirnya juga menguntungkan mereka sendiri. Artinya disini negara
maju “sengaja” membuat alur sejarah dunia sehingga negara dunia ketiga
tetap tergantung pada negara maju dan diperlakukan sedemikian rupa
menjadi tetap terbelakang.
Modernisasi di dunia ketiga ini tidak
lepas pula kaitannya dengan munculnya industrialisasi. Apa yang terjadi
di Indonesia khususnya, semua kebijakan politik, ekonomi tidak dibentuk
berdasarkan karakteristik negara tapi berdasarkan keinginan, dalam hal
ini adalah keinginan negara maju. Dengan alasan industrialisasi dan
menciptakan lapangan kerja, maka negara maju membuka perusahaan di
negara dunia ketiga. Apa yang dilakukan tersebut adalah salah satu
bentuk ekspansi negara maju terhadap negara dunia ketiga. Negara maju
mengekspansi negara berkembang dengan memindahkan produksinya di negara
berkembang dengan alasan buruh murah dan bahan baku mudah didapat.
Negara maju juga mempertimbangkan hal lain mengapa proses produksi
dilakukan di negara berkembang, Mereka sadar bahwa industri mereka
ternyata memnimbulkan dampak lingkungan yang tinggi, oleh karenanya
industri berat dialihkan ke negara-negara miskin, dengan alasan tidak
ingin polusi industri terjadi di negaranya. Mereka memiliki slogan ‘Not in My Backyard’
Solusi dari permasalahan ini adalah memberikan kebebasan bagi negara-negara pinggiran untuk mengembangkan dirinya dengan melihat konteks budaya dan kesejarahannya sendiri. Dalam bidang Industri dapat diawali dengan subtitusi impor. Barang-barang industri yang sebelumnya diimport, harus mulai diproduksi dalam negeri.
Menurut Andre Gunder Frank dalam bukunya Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi menyatakan
bahwa negara-negara maju mengekspor partikularisme ke negara
terbelakang yakni partikularisme yang dibungkus dengan dengan
slogan-slogan universalitas seperti kemerdekaan, demokrasi, keadilan,
kepentingan bersama, liberalisme ekonomi melalui perdagangan bebas,
liberalisme politik melalui pemiilhan yang bebas, liberalisme sosial
melalui mobilitas sosial yang bebas serta liberalisme kultural melalui
kebebasan lalu lintas ide-ide. Dari berbagai macam munculnya panji-panji
universal dari Amerika dan negara maju lainnya sebenarnya tidak lain
adalah alat untuk menutupi kepentingan-kepentingan prive dan
partikularis negara maju yang tidak sedap untuk dipandang.
Oleh karenanya, sudah sewajarnya mulai
dari detik ini kita selalau waspada terhadap pembangunan di negara kita.
Jangan sampai pembangunan di negara kita ini hanyalah skenario dari
negara maju untuk menguras seluruh potensi ekonomi kita. Jangan sampai
juga sisi-sisi kemanusiaan di kesampingkan dalam pembagunan, sehingga
manusia di negara kita hanya dijadikan alat yang hanya bisa bekerja
layaknya mesin, bekerja terus menurus tanpa dan berada dalam posisi
lemah/tidak memiliki daya tawar (bargaining power).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar